Selasa, 28 September 2010

Deposisi protein pada sapi PO dan sapi FH yang mendapat pakan ampas tahu, singkong dan rumput gajah

BAB I
PENDAHULUAN

Usaha penggemukan sapi potong banyak menggunakan bakalan sapi Peranakan Ongole (PO), namun dalam perkembangannya sekarang ini sapi Peranakan Fresian Holstein (PFH) jantan juga dimanfaatkan sebagai penghasil daging. Sapi PO merupakan sapi tropis, sedangkan sapi PFH merupakan sapi subtropis. Kedua sapi ini memiliki perbedaan karakteristik karena kedua sapi ini berasal dari bangsa yang berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut misalnya kemampuan memanfaatkan pakan, pertumbuhan, warna bulu dan ukuran tubuh.
Bangsa sapi yang berbeda juga akan mempengaruhi kemampuan sapi dalam mendeposisikan protein pakan. Deposisi protein pakan mempengaruhi produktivitas sapi, jika protein banyak yang terdeposisi dalam tubuh maka produktivitas sapi akan baik. Sekarang ini belum diketahui secara pasti kemampuan sapi PO dan sapi PFH dalam mendeposisikan protein pakan. Khususnya protein pakan dari rumput gajah, ampas tahu dan singkong.
Rumput gajah, ampas tahu dan singkong merupakan pakan lokal yang banyak digunakan oleh peternak karena ketersediaannya cukup banyak, murah harganya dan memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Ampas tahu merupakan limbah industri pembuatan tahu yang memiliki kandungan protein cukup tinggi yaitu 23,7% (Siregar,2003). Pakan yang diberikan selain tercukupi kebutuhan protein juga dibutuhkan sumber energi, salah satunya berasal dari singkong. Singkong memiliki kandungan energi sebesar 81,8% (Siregar, 2003). Selain konsentarat sapi juga memerlukan pakan kasar yang dapat dipenuhi dari rumput gajah. Rumput gajah memiliki kandungan bahan kering (BK) 21%, protein kasar (PK ) 9,6%, lemak kasar (LK) 1,9%, “total digestible nutrient” (TDN) 52,4 % (Siregar, 2003).
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui deposisi protein pada sapi PO dan PFH yang mendapatkan pakan ampas tahu, singkong dan rumput gajah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kemampuan sapi PO dan sapi PFH dalam memanfaatkan protein pakan dan produktivitas sapi PO dan sapi PFH yang digemukkan dengan pakan rumput gajah, ampas tahu dan singkong.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sapi PO merupakan persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Ongole, sapi ini termasuk sapi dwiguna, yaitu sebagai tipe pekerja dan tipe pedaging (Sosroamidjojo, 1984; BPTP Jawa Tengah, 1996). Menurut Williamson dan Payne, (1993) sapi PO banyak dipelihara di Indonesia dan sekarang sudah dianggap sebagai sapi lokal.
Sapi PO mempunyai ciri-ciri berwarna dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dibawah leher dan berpunuk (Abidin, 2002). Menurut Arianto dan Sarwono, (2001) ciri-ciri sapi PO adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, berleher pendek, dengan kepala, leher, gelambir dan lutut berwarn hitam. Dijelaskan lebih lanjut bahwa sapi ini memiliki persentase karkas 45-58%. Menurut Setiadi (2001), bobot badan sapi PO jantan dapat mencapai 600 kg, sedangkan yang betina 400 kg. Sapi PO tahan terhadap panas dan mempunyai pertambahan bobot badan sebesar 0,5 kg/hari dengan pakan yang baik (Williamson dan Payne, 1993). Menurut Nurschati yang disitasi oleh Pramono et al. (2004) pertambahan bobot badan harian sapi PO dapat mencapai 0,70-0,77 kg/ekor/hari dengan pemberian pakan berupa konsentrat yang tersusun dari singkong, konsentrat pabrik dan dedak padi. Hasil penelitian Pramono et al. (2004) menunjukkan bahwa dengan pakan berupa rumput lapangan dan konsentrat sebesar 1,5% dari bobot badan, pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi PO dapat mencapai 0,69 kg.
2.2. Sapi Peranakan Friesian Holstein

Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) merupakan hasil persilangan antara sapi lokal dengan sapi Friesian Holstein, dengan ciri tidak berpunuk, warna belang hitam putih dan pada bagian dahi terdapat segitiga berwarna putih (Abidin, 2002). Sapi (PFH) jantan yang tidak digunakan sebagai pejantan (pemacek) sering digunakan sebagai bakalan untuk penggemukan (BPTP Jawa Tengah, 1996).
Pertambahan bobot badan harian pedet PFH dapat mencapai rataan 0,625 kg dan setelah berumur satu tahun pertambahan bobot badan hariannya dapat mencapai 1,0 kg (BPTP Jawa Tengah, 1996). Menurut Abidin (2002), pertambahan bobot badan harian sapi PFH jantan dapat mencapai 1,1 kg. Sapi PFH yang diberi pakan berupa singkong, konsentrat pabrik dan dedak padi memberikan pertambahan bobot badan paling tinggi dibandingkan sapi Peranakan Simmental dan Peranakan Limousin, masing-masing 1,32; 1,18 dan 0,90 kg/ekor/hari (Pramono et al., 2004).

2.3. Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah pertambahan bobot dan perubahan ukuran jaringan-jaringan tubuh seperti daging, tulang dan komposisi tubuh (Anggorodi, 1994). Menurut Soeparno (1998) pertumbuhan merupakan perubahan ukuran tubuh yang meliputi perubahan bobot hidup, bentuk dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ serta komponen-komponen kimia termasuk air, lemak, protein dan abu. Pertumbuhan terjadi dengan penambahan jumlah sel atau yang biasa disebut dengan hiperplasia dan penambahan ukuran sel atau disebut hipertropia (Anggorodi,1994)
Pertumbuhan dapat dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot badan, yaitu dengan penimbangan berulang-ulang dan dibuat dalam pertambahan bobot badan harian, mingguan atau per satuan waktu lain (Tillman et al., 1991). Menurut Soeparno (1998) pengukuran pertumbuhan ternak didasarkan pada kenaikan bobot badan per satuan waktu tertentu yang dinyatakan sebagai rata-rata pertambahan bobot badan per hari.
Soeparno (1998) menyatakan bahwa kurva pertumbuhan berbentuk sigmoid. Laju pertumbuhan mula-mula terjadi sangat lambat, kemudian cepat, selanjutnya berangsur-angsur menurun atau melambat dan berhenti setelah mencapai kedewasaan. Kurva pertumbuhan ternak dapat dilihat pada Ilustrasi 1.

Dewasa

Umur Pubertas




Penyapihan

Pembuahan Kelahiran

Waktu

Ilustrasi 1. Kurva Pertumbuhan (Soeparno, 1998)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhaan suatu individu antara lain mutu pakan, faktor lingkungan dan faktor genetik (Anggorodi, 1994). Pakan merupakan faktor yang mempunyai pengaruh sangat penting terhadap laju pertumbuhan, apabila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah cukup, maka pertumbuhan ternak akan terjadi secara cepat, demikian pula sebaliknya (Tillman et al., 1991). Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan meliputi temperatur udara dan penyakit (Williamson dan Payne, 1993). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pertumbuhaan ternak akan berlangsung normal pada kondisi temperatur yang optimumMenurut Tillman et al., (1991) sapi yang secara genetik memiliki tubuh besar akan memiliki pertambahan bobot badan yang lebih cepat dibandingkan dengan sapi yang kecil.
2.4. Pakan
Menurut Lubis (1992), pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, yang dapat dicerna seluruhnya atau sebagian dan tidak mengganggu kesehatan ternak tersebut. Pakan yang biasanya diberikan pada sapi umumnya berupa pakan kasar dan konsentrat (Arianto dan Sarwono, 2002). Menurut Santosa (1995) pakan yang diberikan pada sapi harus diusahakan mengandung zat-zat pakan yang dibutuhkan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan untuk reproduksi.

2.4.1. Rumput Gajah

Rumput gajah merupakan rumput potongan yang tumbuh tegak membentuk rumpun, berumur panjang dan tingginya dapat mencapai 2 meter, produksinya dapat mencapai 150-200 ton/ha/th dengan jarak pemotongan 6-8 minggu (Setiadi, 2001). Menurut Lubis (1992), rumput ini dapat tumbuh dengan baik di daerah pegunungan. Rumput gajah yang masih segar memiliki kandungan bahan kering (BK) 21%, protein kasar (PK ) 9,6%, lemak kasar (LK) 1,9%, dan “total digestible nutrient” (TDN) 52,4 % (Siregar, 2003).

2.4.2. Konsentrat

Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%, mempunyai sifat mudah dicerna dan merupakan sumber energi atau sumber protein bagi ternak, konsentrat sumber protein mempunyai kadar protein lebih dari 18%, sedangkan konsentrat sumber energi mengandung protein kurang dari 18% dan mengandung TDN 65-70%. (Tillman et al., 1991; BPTP Jawa Tengah, 1996). Bahan pakan penyusun konsentrat sebaiknya terdiri dari bermacam-macam bahan, hal ini untuk menciptakan efek suplementasi, yaitu saling melengkapi zat pakan yang ada pada masing-masing bahan, sehingga efisiensi konsentrat menjadi tinggi (Parakkasi, 1999). Menurut Sugeng (2003), konsentrat dapat tersusun dari biji-bijian seperti jagung, menir, bulgur, dan hasil ikutan pertanian atau pabrik seperti dedak padi, bekatul, bungkil kelapa dan berbagai umbi.
Ampas tahu merupakan sisa atau hasil ikutan dari pabrik tahu yang masih dapat digunakan sebagai pakan ternak (Lubis, 1992). Menurut Siregar (2003), ampas tahu mengandung BK 26,2%, PK 23,7%, LK 10,1%, dan TDN 79%. Dijelaskan oleh Lubis (1992), bahwa ampas tahu yang sudah dikeringkan masih mengandung kira-kira 16% air, dengan kadar protein dapat dicerna 22,3%.
Ubi kayu merupakan tanaman tegalan, tetapi dapat menjadi tanaman pergiliran yang berguna di dataran rendah tropika yang diusahakan untuk umbinya (Peregrine et al., 1993). Menurut Lubis (1992), ubi kayu baik digunakan sebagai pakan ternak karena memiliki hidrat arang yang tinggi daya cernanya. pakan yang Ubi kayu memiliki kandungan BK 32,3%, PK 3,3%, LK 3,3%, dan TDN 81,8%.

2.5. Kebutuhan Zat Pakan


Pakan yang diberikan pada sapi yang dipelihara secara feedlot sebagian besar berupa konsentrat, sedikit hijauan dan feed additives. Biasanya perbandingan konsentrat dan hijauan yang diberikan adalah 70:30 (Department of Primary Industries Queensland, 1991). Kebutuhan gizi sapi tergantung beberapa faktor, yaitu umur, bobot badan, pertambahan bobot badan dan tujuan pemeliharaan (Siregar, 2003). Zat-zat pakan yang dibutuhkan ternak sapi adalah air, energi, protein, mineral dan vitamin (Blakely daan Bade, 1998). Zat pakan tersebut digunakan untuk mempertahankan hidup, aktivitas tubuh, menjaga kesehatan, hidup pokok daan produksi (Sugeng, 2003). Dijelaskan oleh Siregar (2003) bahwa, semakin tinggi bobot badan dan pertambahan bobot badan semakin banyak pula gizi yang dibutuhkan. Kebutuhan pakan berdasarkan bobot badan dan asumsi pertambahan bobot badan pada sapi dapat dilihat pada Tabel 1.
Sapi yang masih sangat muda mempunyai keterbatasan dalam mengkonsumsi bahan pakan yang mengandung serat kasar tinggi (Siregar, 2003). Menurut Lubis (1992) jumlah bahan kering yang dibutuhkan oleh ternak adalah sekitar 2-4% dari bobot badan, bahan kering tersebut berfungsi sebagai pengisi lambung dan perangsang dinding saluran pencernaan untuk menggiatkan pembentukan enzim.
Tabel 1. Kebutuhan Zat-Zat Pakan Sapi Jantan untuk Pertumbuhan dan
Penggemukan (Kearl, 1982).

BB PBBH Kebutuhan BK Kebutuhan Zat Pakan
TDN PK
kg % BB kg
200 0,50 5,20 2,60 2,80 0,554
0,75 5,40 2,70 3,20 0,622
1,00 5,60 2,80 3,70 0,690

250 0,50 6,20 2,50 3,20 0,623
0,75 6,40 2,60 3,80 0,693
1,00 6,60 2,60 4,30 0,760

300 0,50 7,00 2,30 3,70 0,679
0,75 7,40 2,50 4,30 0,753
1,00 7,50 2,50 5,00 0,819
Keterangan : BB = Bobot Badan, PBBH = Pertambahan Bobot Badan, BK = Bahan Kering, TDN = Total Digestible Nutrient, PK = Protein Kasar

2.6. Metabolisme Protein

Protein merupakan zat organik yang mempunyai unsur nitrogen, oksigen, karbon, hidrogen, sulfur dan fosfor (Anggorodi, 1994). Protein kasar dari pakan dapat berupa protein murni dan nitrogen non protein (Soebarinoto et al., 1991). Menurut Frandson (1993) protein pakan pada ruminansia dapat mengalami 3 kemungkinan, yaitu : pertama, protein pakan digunakan oleh mikrobia rumen, kedua protein mengalami “recyling” sebagai urea (NH3) dan asam amino, dan ketiga protein melewati rumen tanpa perubahan (protein “bypass”).
Menurut Prawirokusumo (1994), protein pakan yang dikonsumsi sebagian akan didegradasi oleh mikroba rumen dan sebagian ada yang langsung masuk ke dalam abomasum dan usus halus. Protein dalam rumen akan mengalami hidrolisis menjadi peptida oleh enzim proteolisis yang dihasilkan oleh mikroba (Soebarinoto et al., 1991). Alur metabolisme protein pada ruminansia dapat dilihat pada Ilustrasi 2.
Peptida sebagian digunakan untuk membentuk protein tubuh mikroba dan sebagian lagi dihidrolisis menjadi asam-asam amino (Soebarinoto et al., 1991). Menurut Arora (1995), hidrolisa protein menjadi asam amino diikuti oleh proses deaminasi untuk membebaskan amonia. Amonia yang terbentuk di dalam rumen sebagian besar akan digunakan oleh mikroba untuk membentuk protein tubuh dan sebagian lainnya dibawa ke hati dan diubah menjadi urea (Soebarinoto et al., 1991). Urea sebagian besar akan keluar melalui ginjal dan dikeluarkan bersama urin, sebagian akan masuk kembali dalam rumen melalui saluran darah atau lewat
saliva (Arora, 1995).
Protein pakan yang lolos dari degradasi akan langsung masuk ke dalam saluran pencernaan dibawahnya, yaitu abomasum dan usus halus yang selanjutnya dapat diserap sebagai asam amino yang dapat dipergunakan untuk proses produksi (Prawirokusumo, 1994). Protein dalam tubuh ternak akan disimpan dalam daging, organ internal dan jaringan bawah kulit (Anggorodi, 1994). Lebih lanjut dijelaskan bahwa protein dalam tubuh ternak berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh dan pertumbuhan jaringan baru.







































2.7. Deposisi Protein
Deposisi protein adalah banyaknya protein yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh yang dihitung dari jumlah protein yang dikonsumsi dikurangi dengan protein feses dan protein urin (Ranjhan, 1977). Deposisi protein dihitung dengan pengurangan dari jumlah protein yang dikonsumsi dikurangi dengan protein feses dan protein urin (Boorman, 1980). Faktor-faktor yang mempengaruhi deposisi protein adalah jenis kelamin, tingkat protein serta kualitas pakan yang diberikan pada ternak dan genetik (Orskov, 1992).
Protein atau asam amino di dalam tubuh akan diserap dan digunakan untuk proses metabolisme tubuh, sedangkan yang tidak dipakai akan dibuang lewat urin dan feses (Frandson, 1993). Menurut Anggorodi (1994) ternak akan membuat jaringan tubuhnya dari asam-asam amino yang merupakan hasil pencernaan dari protein pakan. Fungsi protein bagi ternak adalah untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi dan produksi (Prawirokusumo,1994). Menurut Arianto dan Sarwono (2003), protein bagi sapi berfungsi untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak, membentuk sel-sel tubuh yang baru, dan sumber energi.
Kualitas protein merupakan faktor penting yang menentukan efisiensi deposisi protein tubuh. Deposisi protein pada gilirannya akan menentukan produksi dan pertumbuhan ternak, semakin tinggi deposisi protein maka pertumbuhan akan semakin baik (Boorman, 1980). Menurut Maynard dan Loosli (1969), deposisi protein yang bernilai positif akan menyebabkan terjadinya kenaikan bobot badan karena adanya pertambahan jaringan daging, sedangkan deposisi protein yang bernilai negatif akan menyebabkan terjadinya penurunan bobot badan karena adanya pembongkaran protein untuk mencukupi kebutuhan hidup, dan deposisi protein nol beararti jumlah protein yang masuk sama dengan yang dikeluarkan tubuh.





















BAB III

METODOLOGI

Penelitian tentang deposisi protein pada sapi PO dan sapi FH yang mendapat pakan ampas tahu, singkong dan rumput gajah, dilakukan bulan September 2004 sampai Januari 2005, di kandang Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi dan Peralatan

Penelitian deposisi protein menggunakan empat ekor sapi PO jantan dengan bobot badan rata-rata 195,911,38 kg (CV=5,18%) dan empat ekor sapi PFH jantan dengan bobot badan rata-rata 198,643,14 kg (CV=1,58%). Kandang yang digunakan bertipe “tail to tail” dengan kapasitas 10 ekor, dilengkapi dengan palung pakan, palung minum dan gudang pakan.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain peralatan kandang yang meliputi ember, sikat, selang air, sapu lidi dan sekop, timbangan merek “Sima” kapasitas 2000 kg, ketelitian 1 kg untuk menimbang ternak, timbangan merek “Five Goats” kapasitas 5 kg dan ketelitian 20 gram untuk menimbang bahan pakan. Peralatan yang mendukung pengambilan data deposisi protein berupa harness sebagai alat penampung feses dan urin, jerigen, botol plastik, dan pH indikator.
Pakan yang diberikan terdiri atas hay rumput gajah, ampas tahu dan ubi kayu. Kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Penelitian
Bahan Pakan BK PK Abu LK BETN SK
%

Hay Rumput Gajah 84,88 13,04 15,14 2,13 27,93 36,79
Ampas Tahu 13,63 18,27 2,86 6,53 48,50 23,84
Ubi Kayu 35,82 2,49 1,55 0,39 90,94 4,63

Keterangan : BK = Bahan Kering, PK = Protein Kasar, LK = Lemak Kasar, BETN = Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen, SK= Serat Kasar

3.2. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah metode “Independent Sample Comparison” (Steel dan Torrie, 1984), yaitu suatu metode yang dapat digunakan untuk membandingkan 2 kelompok ternak dengan bangsa yang berbeda. Penelitian ini membandingkan 2 kelompok sapi dengan genetik yang berbeda, yaitu sapi PO 4 ekor dan sapi PFH 4 ekor.

3.3. Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dalam empat periode, yaitu periode persiapan (3 minggu), periode adaptasi (3 minggu), periode pendahuluan (2 minggu) dan periode perlakuan (12 minggu). Periode persiapan dilakukan dengan mempersiapkan kandang, mempersiapkan bahan pakan yang digunakan dan mempersiapkan peralatan yang akan digunakan.
Pada periode adaptasi, ternak diberi bahan pakan yang akan digunakan saat penelitian untuk membiasakan ternak dalam mengkonsumsi bahan pakan dan untuk mengetahui kemampuan ternak dalam mengkonsumsi bahan kering pakan. Pada periode pendahuluan ternak percobaan diberi pakan sesuai dengan perlakuan, hal ini bertujuan untuk menghilangkan pengaruh pakan sebelumnya.
Pada awal periode perlakuan dilakukan penimbangan bobot badan ternak untuk mengetahui bobot badan awal sapi, penimbangan dilakukan satu minggu sekali pada pagi hari sebelum diberi pakan. Pakan diberikan berdasarkan kebutuhan bahan kering (BK) yaitu sebanyak 3% bobot badan. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah (30% dari kebutuhan bahan kering) dan konsentrat diberikan 70%, terdiri dari ampas tahu dan singkong. Rumput gajah sebelum diberikan dikering-udarakan terlebih dahulu dengan cara diikat dan digantungkan padaa para-para. Konsentrat diberikan 3 kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB dan 17.00 WIB, sedangkan rumput Gajah diberikan 2 jam setelah pemberian konsentrat. Air minum diberikan secara ad libitum. Pakan konsentrat diberikan dalam bentuk campuran antara ampas tahu dan singkong. Singkong diberikan dalam potongan-potongan kecil yang sudah dicuci terlebih dahulu, baru dicampur dengan ampas tahu.
Pengumpulan feses dan urin dilakukan pada minggu ke 4 dari periode perlakuan, selama 5 hari berturut-turut. Sampel urin diambil secara proposional setiap hari dengan penentuan nilai proporsinya didapat dari pengambilan sampel hari pertama. Urin yang diambil sebanyak 1 kg dari total urin pada hari pertama. Pengambilan urin pada hari berikutnya disesuaikan proporsinya dengan pengambilan pada hari pertama. Hasil total koleksi urin selama 5 hari dicampur hingga homogen, kemudian diambil sample untuk dianalisis. Sampel feses diambil 1 kg. Pengambilan sampel feses pada hari berikutnya disesuaikan proporsinya dengan pengambilan pada hari pertama. Sampel yang diambil selama 5 hari kemudian dikeringkan, setelah kering ditumbuk dan dicampur sampai homogen, lalu diambil sub sampel untuk dianalisis.

3.4. Parameter Penelitian
Parameter yang diamati dalam penelitian adalah konsumsi bahan kering (BK) pakan, pertambahan bobot badan, jumlah protein kasar (PK) yang dikonsumsi, jumlah PK yang terkandung dalam feses, jumlah PK yang terkandung dalam urin, dan deposisi protein. Pakan yang dikonsumsi diukur dengan menghitung selisih antara pakan yang diberikan dengan pakan yang tersisa. Cara menghitung parameter penelitian adalah sebagai berikut :
Konsumsi protein = (konsumsi BK rumput gajah x % protein rumput gajah) + (konsumsi BK ampas tahu x % protein ampas tahu) + (konsumsi BK singkong x % protein singkong)
Protein dalam feses = jumlah BK feses x % protein feses
Protein dalam urine = jumlah BK Urine x % protein Urine
Konsumsi protein tercerna = konsumsi protein – protein feses – protein urine
Kecernaan protein = kons. protein – protein feses / kons. protein x 100%
Deposisi protein = jumlah protein yang terkonsumsi – (protein feses + protein
urine)
Retensi Protein = (kons. protein – protein feses – protein urine) / kons. Protein x
100%

3.5. Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji – t (t-test). Data dari hasil penelitian akan diuji dengan t-test (Sugiyono, 2002).
t hitung =
Keterangan :
= Nilai rata-rata sampel 1
= Nilai rata-rata sampel 2
s1 = Nilai varian sampel 1
s2 = Nilai varian sampel 2
n1 = Jumlah individu sampel 1
n2 = Jumlah individu sampel 2
Hipotesis penelitian untuk seluruh pengamatan adalah sebagai berikut :
H0 : Tidak terdapat perbedaan deposisi protein antara sapi PO dan PFH.
H1 : Terdapat perbedaan deposisi protein antara sapi PO dan PFH.

Kriteria Pengujian
H0 diterima jika t hitung < t table 0,05 H1 ditolak jika t hitung > t table 0
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Konsumsi dan Kecernaan Pakan

Hasil rata-rata konsumsi bahan kering (BK) rumput Gajah, BK ampas tahu, BK singkong, BK tercerna dan kecernaan BK dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini. Perhitungan statistik dari data-data tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1-6.
Tabel 3. Rata-rata Konsumsi BK total, Konsumsi BK rumput Gajah, Konsumsi BK Ampas Tahu, Konsumsi BK singkong, Konsumsi BK Tercerna dan Kecernaan BK.


Parameter Bangsa Sapi Perbedaan
PO PFH
Konsumsi BK total (g/hari) 5.005 5.300 tn
Konsumsi BK rumput Gajah (g/hari) 1.208 1.055 tn
Konsumsi BK ampas tahu (g/hari) 1.858 2.088 tn
Konsumsi BK singkong (g/hari)
Konsumsi BK tercerna (g/hari)
Kecernaan BK (%) 1.940
3.647
72,99 2.158
3.823
72,20 tn
tn
tn
Keterangan : tn = tidak nyata (P>0,05)


Konsumsi BK total antara sapi PO dan PFH relatif sama (Tabel 3), masing-masing sebesar 5.005 g/hari dan 5.300 g/hari, konsumsi BK rumput Gajah pada sapi PO sebesar 1.208 g/hari dan pada sapi PFH sebesar 1.055 g/hari. Konsumsi BK ampas tahu pada sapi PO sebanyak 1.858 g/hari dan pada sapi PFH 2.088 g/hari, sedangkan konsumsi BK singkong pada sapi PO sebanyak 1.940 g/hari dan pada sapi PFH sebanyak 2.157 g/hari. Hasil uji statistik yang dilakukan pada data tersebut menunjukkan bahwa kedua bangsa sapi tidak berbeda nyata (P>0,05) dalam hal parameter tersebut diatas (lihat Lampiran 1-4). Hal ini menunjukkan bahwa kedua bangsa sapi ini memiliki kemampuan yang sama dalam mengkonsumsi bahan kering. Keadaan tersebut dapat disebabkan sapi PFH yang digunakan merupakan hasil persilangan antara sapi FH dengan PO, sehingga kedua sapi ini memiliki kesamaan genetik. Selain hal tersebut sapi PO dan PFH yang digunakan memiliki bobot badan yang hampir sama sehingga kedua sapi ini mempunyai kemampuan yang hampir sama juga untuk mengkonsumsi bahan kering. Hal ini sesuai dengan pendapat Soebarinoto et al. (1991), yang menyatakan bahwa perbedaan kemampuan ternak dalam mengkonsumsi pakan disebabkan oleh aspek individu, spesies dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan.
Konsumsi BK sapi PO sebesar 2,01% dari bobot badan dan sapi PFH 2,08% dari bobot badan, konsumsi tersebut lebih rendah dari yang disarankan oleh Kearl (1982), yaitu bahwa sapi dengan bobot badan 200 kg dengan target pertambahan bobot badan harian 1 kg membutuhkan BK 2,80% bobot badan. Menurut Parakkasi (1999), tinggi rendahnya konsumsi pakan dapat dipengaruhi oleh potensi genetik ternak. Siregar (2003), menyatakan kemampuan sapi dalam mengkonsumsi bahan kering pakan dipengaruhi oleh faktor ternak itu sendiri, keadaan ransum pakan dan bobot badan sapi. Dijelaskan lebih lanjut bahwa semakin tinggi bobot badan sapi akan semakin menurun kemampuannya dalam mengkonsumsi bahan kering pakan.
Persentase kecernaan BK sapi PO adalah 72,99% dan sapi PFH 72,20 %. Konsumsi BK tercerna antara sapi PO dan PFH masing-masing adalah 3.647 g/hari dan 3.823 g/hari, konsumsi BK ini hampir sama (Tabel 3). Hasil uji statistik untuk persentase kecernaan BK dan besarnya BK yang tercerna menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,005; lihat Lampiran 5 dan 6). Hal tersebut menunjukkan bahwa antara sapi PO dan PFH memiliki kemampuan menampung digesta yang hampir sama dan laju pakan dalam saluran pencernaan juga tidak berbeda. Selain hal tersebut mungkin juga dapat disebabkan lamanya pakan di dalam rumen kedua bangsa hampir sama dan jumlah populasi mikroba rumen juga sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Arianto dan Sarwono (2001), bahwa kecernaan pakan antara lain ditentukan oleh lamanya pakan berada di dalam rumen dan jumlah populasi mikroba rumen, semakin banyak mikroba rumen dan semakin lama pakan berada di rumen semakin banyak pakan yang dapat dicerna. Menurut Cambell dan Lasley (1985), tingkat kecernaan pakan dapat dipengaruhi oleh laju pakan dalam saluran pencernaan.

4.2. Deposisi Protein

Hasil penelitian mengenai rata-rata konsumsi protein kasar (PK), pengeluaran PK, konsumsi PK tercerna, kecernaan PK, konsumsi PK terdeposisi, deposisi PK, laju pertambahan bobot badan harian (PBBH), dan PBBH dapat dilihat pada Tabel 4. Data pada Tabel 4 menunjukan bahwa konsumsi PK total pada sapi PO (603 g/hari) dan pada sapi PFH (638 g/hari) tidak berbeda nyata (P>0,05; Lampiran 9). Tidak adanya perbedaan statistik dalam mengkonsumsi PK, karena umur dan bobot badan kedua bangsa sapi yang digunakan hampir sama. Umur bangsa sapi yang digunakan 1,5-2 tahun, sedangkan bobot badan sapi PO 195,9 kg dan PFH 198,64 kg. Umur ternak berpengaruh terhadap kapasitas saluran pencernaan jadi berpengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi. Sapi dengan bobot badan yang hampir sama memiliki kebutuhan hidup pokok, produksi dan reproduksi yang hampir sama sehingga pakan yang dikonsumsi juga hampir sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1999) yang menyatakan konsumsi pakan dipengaruhi oleh bobot badan, permintaan fisiologis ternak untuk hidup pokok dan produksi.
Tabel 4. Rata-rata Konsumsi PK, Pengeluaran PK, Konsumsi PK
Tercerna, Kecernaan PK, Konsumsi PK Terdeposisi, Deposisi
PK,Laju PBBH dan PBBH


Parameter Bangsa Sapi Perbedaan
PO PFH
Konsumsi PK total (g/hari) 603 638 tn
Pengeluaran PK (g/hari) tn
Feses (g/hari)
Urin (g/hari) 216
16 222
24 tn
tn
Konsumsi PK tercerna (g/hari)
Kecernaan PK (%)
Konsumsi PK terdeposisi (g/hari)
Deposisi PK (%)
PBBH (kg/hari) 387
63,41
370
61,54
1,09
415
65,19
392
61,44
1,14 tn
tn
tn
tn
tn
Keterangan : tn = tidak nyata (P>0,05)

Konsumsi protein tercerna sapi PO sebesar 387 g/hari dan sapi PFH sebesar 415 g/hari, kecernaan PK pada sapi PO adalah 63,41% dan pada sapi PFH adalah 65,19%. Rata-rata dari konsumsi protein tercerna sapi PO dan PFH adalah 401 g/hari dan kecernaan 64,40%. Hasil uji statistik konsumsi protein tercerna dan kecernaan sapi PO dan PFH menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,005; lihat Lampiran 11 dan 12). Hal ini didukung dengan pengeluaran PK feses (Tabel 4) juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05; lihat Lampiran 13). Hasil yang tidak berbeda nyata tersebut dapat menunjukkan bahwa antara sapi PO dan PFH memiliki kemampuan mencerna PK dan laju pencernaan PK yang hampir sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Lubis (1992) yang menyatakan bahwa kecernaan pakan dipengaruhi oleh saluran pencernaan. Menurut Soeparno (1994) faktor yang mempengaruhi degradasi protein pakan di dalam rumen adalah pakan dan ternak.
Deposisi protein sapi PO dan PFH masing-masing sebesar 61,54% dan 61,44% sedangkan konsumsi protein terdeposisi pada sapi PO sebesar 370 g/hari dan pada sapi PFH sebesar 392 g/hari. Berdasarkan uji statistik, deposisi protein dan konsumsi deposisi protein pada kedua bangsa tidak berbeda nyata (P>0,05; lihat Lampiran 15 dan 16). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang sama dalam mendeposisikan protein pakan. Deposisi protein menurut (Montgomery et al., 1993) antara lain dipengaruhi oleh hormon tiroksin. Hormon ini dipengaruhi oleh genetik dan suhu lingkungan. Menurut Orskov (1992), salah satu faktor yang dapat mempengaruhi deposisi protein adalah faktor genetik.
Jumlah protein yang terdeposisi dapat dipengaruhi oleh kualitas protein pakan yang dikonsumsi, seperti yang dinyatakan oleh Boorman (1980), bahwa kualitas protein merupakan faktor penting yang menentukan efisiensi deposisi protein tubuh, dimana deposisi protein akan menentukan produksi dan pertumbuhan ternak semakin tinggi deposisi protein maka pertumbuhan akan semakin baik
Hasil penelitian tersebut menunjukkan nilai positif karena terdapat peningkatan bobot badan selama penelitian. Hasil ini sesuai dengan pendapat (Maynard dan Loosli, 1969; Crampton dan Harris, 1969) yang menyatakan deposisi protein yang bernilai positif akan menyebabkan terjadi kenaikkan bobot badan yang disebabkan terjadi pertambahan jaringan daging, pertambahan bobot badan yang terjadi akan digunakan untuk produksi, pertambahan bobot badan dan fungsi tubuh lainnya.
Pertambahan bobot badan harian yang dihasilkan oleh sapi PO dan PFH dalam penelitian ini masing-masing 1,09 kg/hari dan 1,14 kg/hari. Hasil uji menunjukkan bahwa PBBH kedua bangsa tidak berbeda nyata (P>0,05; lihat Lampiran 20). Tidak adanya perbedaan yang nyata antara kedua bangsa dalam PBBH ini sejalan dengan kenyataan bahwa jumlah PK yang terdeposisi juga tidak berbeda nyata. Menurut Tillman et al. (1998), pakan merupakan faktor yang sangat penting, apabila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah cukup, maka pertumbuhannya akan terjadi cepat, demikian pula sebaliknya. Menurut Anggorodi (1994), salah satu faktor yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhaan suatu individu adalah faktor genetik. Ditambahkan oleh Tillman et al., (1998) sapi yang secara genetik memiliki tubuh besar akan memiliki pertambahan bobot badan yang lebih cepat dibandingkan dengan sapi yang ukuran tubuhnya kecil.
Pertambahan bobot badan harian yang dicapai oleh sapi PO adalah 1,09 kg. PBBH sapi PO ini lebih tinggi dibandingkan dengan pendapat Williamson dan Payne (1993), yang menyatakan pertambahan bobot badan sapi PO sebesar 0,5 kg/hari dengan pakan yang baik. PBBH sapi PFH dalam penelitian ini sebesar 1,14 kg, hasil ini sesuai dengan pendapat Abidin (2002) yang menyatakan pertambahan bobot badan harian sapi PFH jantan dapat mencapai 1,1 kg. Menurut Nuschati (2000) yang disitasi oleh Pramono et al. (2004) bahwa dengan pemberian pakan lokal berupa singkong, konsentrat pabrik, dan dedak padi pertambahan bobot badan sapi PO mencapai 0,70-0,77 kg/hari dan sapi PFH mencapai PBBH 1,32 kg. Perbedaan pertambahan bobot badan harian hasil penelitian ini dengan penelitian yang lain disebabkan oleh pakan, umur sapi dan bobot badan awal sapi yang digunakan berbeda.

4.3 Konversi Protein Kasar

Konversi protein kasar merupakan hasil perhitungan imbangan antara protein pakan yang dikonsumsi dengan PBBH yang dihasilkan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besarnya konversi pakan adalah faktor genetik, bobot badan, umur, palatabilitas pakan, pertambahan bobot badan harian dan kemampuan ternak dalam mencerna pakan. Hasil perhitungan mengenai konversi protein terkonsumsi, protein tercerna dan protein terdeposisi disajikan pada Tabel 5. Perhitungan statistik dapat dilihat pada Lampiran 17-19.
Besarnya konversi PK terkonsumsi pada sapi PO adalah 0,56 dan sapi PFH sebesar 0,57. Konversi PK tercerna pada sapi PO dan PFH masing-masing adalah 0,36 dan 0,38, sedangkan konversi PK terdeposisi pada sapi PO adalah 0,35 dan pada sapi PFH adalah 0,35. Berdasarkan hasil uji statistik, konversi PK terkonsumsi, PK tercerna dan PK terdeposisi pada kedua bangsa sapi tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05; lihat Lampiran 17-19). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara sapi PO dan sapi PFH memiliki kemampuan yang sama dalam mencerna dan memanfaatkan protein pakan menjadi komponen penyusun tubuh. Menurut Cambell dan Lasley (1985), konversi protein adalah kemampuan ternak untuk mengkonversi protein dalam pakan yang dikonsumsi menjadi daging. Dijelaskan lebih lanjut konversi protein pakan tergantung pada tipe pakan yang dikonsumsi, nutrisi pakan yang hilang pada sisa metabolisme, kemampuan ternak mencerna pakan, kebutuhan ternak akan protein yang digunakan untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh.
Tabel 5. Rata-rata Konversi PK Terkonsumsi, Konversi PK Tercerna, dan Konversi PK Terdeposisi


Parameter Bangsa Sapi Perbedaan
PO PFH
Konversi PK terkonsumsi 0,56 0,57 tn
Konversi PK tercerna 0,36 0,38 tn
Konversi PK terdeposisi 0,35 0,35 tn

Keterangan : tn = tidak nyata (P>0,05)











BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sapi PO dan PFH yang diberi pakan rumput gajah, ampas tahu dan singkong, dapat disimpulkan bahwa sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang sama dalam mendeposisikan protein. Sapi PO dan PFH memiliki kemampuan yang setara dalam konsumsi pakan, kecernaan bahan kering, kecernanan protein kasar, konversi pakan, dan pertambahan bobot badan harian.

5.2. Saran

Ampas tahu dan singkong yang digunakan sebagai konsentrat memberikan nilai yang positif terhadap deposisi protein karena terjadi pertambahan bobot badan sehingga pakan ini baik digunakan sebagai pakan dalam usaha penggemukan sapi potong.






DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT. Gramedia, Jakarta.

Arianto, H. M. dan B. Sarwono. 2001. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat Cetakan ke-3. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh R. Murwani).

Blakely, J. dan Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh B. Srigandono).

Boorman, K. N. 1980. Dietary Contraints on Nitrogen Retention Dalam : P. J. Buttery dan D. B. Lindsay (Editor). Protein Deposition in Animals. 1st Ed. Butterworths, London.

BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Tengah. 1996. Teknologi Penggemukan Sapi Potong. BPTP Jawa Tengah, Ungaran.

Campbell, J. R. dan J. F. Lasley. 1985. The Science of Animal that Serve Mankind. Edisi ke-2. Tata McGraw- Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi.

Cramton, C. W. dan L. Harris. 1969. Aplied Animal Nutrition. Edisi ke-2. W. H. Freeman and Company, San Francisco.

Department of Primary Industries Queensland. 1991. Feedlotting Notes a Collection of Farm Notes.

Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono dan K. Praseno).

Kearl, L. C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. International Feedstuffs Institute, Utah Agricultural Experiment Station University, Logan.

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-3. PT. Pembangunan, Jakarta.

Maynard , L. A. dan J. K. Loosli. 1969. Animal Nutrition. Edisi ke-6. Mc. Graw Hill Book Company, New Delhi.
Montgomery, R., R. L. Dryer, T. W. Conway, dan A. A. Spector. 1993. Biokimia Jilid 2. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (diterjemahkan oleh Ismadi)
Orskov, E. R. 1992. Protein Nurtrition in Ruminants. Second Edition. Harcount Brace Jovanovich, Publishers, London.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Edisi ke-2. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Peregrine, W. T. H., Williams, C. N., J.O. Uzo. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Pramono, D. Subiharta dan Mudjiono. 2004. Respon Pertumbuhan Sapi Peranakan Onggole dan Peranakan Simental terhadap Pemberian Pakan Konsentrat. Dalam : Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. Special Edition October 2004: Hal 1-4.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. Edisi I. BPFE, Yogyakarta.

Ranjhan, S. K. 1977. Animal Nutrition. 3rd Ed. Vikas Publishing House, New Delhi.

Santosa, U. 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Cetakan I. Penebar Swadaya, Jakarta.

Setiadi, B. 2001. Beternak Sapi Daging dan Masalahnya. CV. Aneka Ilmu, Semarang.

Siregar, S. B. 2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soebarinoto, S. Chuzaemi. dan Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Universitas Brawijaya, Malang.

Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke-2. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sosroamidjojo, M. S. 1984. Ternak Potong dan Kerja. Yasaguna, Jakarta.

Steel, R. G. D. dan J. H. Torrie, 1984. Principles and Procedures of Statistics, Biometrical Approach. 2nd Ed. McGraw-Hill International Book Company, Singapura.

Sugeng, Y. B. 2003. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Cetakan ke-4. CV. Alfabeta, Bandung.

Tillman.A. D., H. Hartadi. dan S Reksohadiprodjo. 1986. Tabel Komposisi Bahan Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University press, Yogyakarta.

Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh : S. G. N. D. Darmadja).





































Lampiran 1. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering
(BK) Rumput gajah


Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 gr/hari

1.450

930
2 1.250 810
3 1.200 1.160
4 930 1.320
Rata-rata 1.208 1.055
Standard deviasi (sd) 214,22 228,69
Varians (s2) 45.890,21 52.299,12

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:

: 1,14

F 0,05 (3;3) : 9,28

F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen Uji t-student Konsumsi BK rumput gajah t hitung = t hitung = Lampiran 1. Lanjutan = = = 0,98 t tabel (0,05; 6) = 1,943 t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi BK rumput gajah Lampiran 2. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering (BK) Ampas Tahu Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 1.960 1.840 2 1.580 2.120 3 2.140 2.320 4 1.750 2.070 Rata-rata 1.857 2.088 Standard deviasi (sd) 244,18 197,21 Varians (s2) 59.623,87 38.891,78 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 1,53 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung < F tabel, maka data tidak bersifat homogen Uji t-student Konsumsi BK ampas tahu t hitung = t hitung = Lampiran 2. Lanjutan = = = 1,47 t tabel (0,05; 6) = 1,943 t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi BK ampas tahu Lampiran 3. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering (BK) Singkong Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 2.060 1.920 2 1.690 2.200 3 2.230 2.410 4 1.780 2.100 Rata-rata 1.940 2.158 Standard deviasi (sd) 249,40 204,35 Varians (s2) 62.200,36 41.758,92 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 1,49 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung > F tabel, maka data bersifat tidak homogen
t hitung =
t hitung =





Lampiran 3. Lanjutan

=
=
= 1,35
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi BK singkong Lampiran 4. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering (BK) Total Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 5.470 4.690 2 4.520 5.130 3 5.570 5.890 4 4.460 5.490 Rata-rata 5.005 5.300 Standard deviasi (sd) 596,57 511,60 Varians (s2) 355.895,76 261.734 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 1,36 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen Uji t-student Konsumsi BK total t hitung = t hitung = Lampiran 4. Lanjutan = = = 0,95 t tabel (0,05; 6) = 1,943 t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi BK total Lampiran 5. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Bahan Kering (BK) Tercerna Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 4.084 3.406 2 3.166 3.692 3 3.865 4.079 4 3.473 4.115 Rata-rata 3.647 3.823 Standard deviasi (sd) 408,41 337,72 Varians (s2) 166.798,73 114.054,80 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 1,50 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen Uji t-student Konsumsi BK Tercerna t hitung = t hitung = Lampiran 5. Lanjutan = = = 0,66 t tabel (0,05; 6) = 1,943 t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada BK tercerna Lampiran 6. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Kecernaan Bahan Kering (BK) Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 % 74,66 72,62 2 70,04 71,96 3 69,39 69,25 4 77,86 74,96 Rata-rata 72,99 72,20 Standard deviasi (sd) 4,01 2,35 Varians (s2) 16,08 5,52 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 7,5 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen Uji t-student Konsumsi PK total t hitung = t hitung = Lampiran 6. Lanjutan = = = 0,34 t tabel (0,05; 6) = 1,943 t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada kecernaan BK Lampiran 7. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Protein Kasar (PK) Ampas Tahu Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 420 390 2 340 450 3 460 500 4 370 450 Rata-rata 398 448 Standard deviasi (sd) 53,15 45,00 Varians (s2) 2.824,92 2.025,00 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 1,40 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung > F tabel, maka data tidak bersifat homogen
Uji t-student Konsumsi PK Ampas Tahu
t hitung =
t hitung =




Lampiran 7. Lanjutan

=
=
= 1,44
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi PK ampas tahu Lampiran 8. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Protein Kasar (PK) Singkong Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 50 50 2 40 50 3 60 60 4 40 50 Rata-rata 48 53 Standard deviasi (sd) 9,57 5,00 Varians (s2) 91,58 25,00 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 3,66 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen Uji t-student Konsumsi PK Singkong t hitung = t hitung = Lampiran 8. Lanjutan = = = 0,93s t tabel (0,05; 6) = 1,943 t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi PK singkong Lampiran 9. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Protein Kasar (PK) Rumput Gajah Ulangan Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH 1 gr/hari 190 120 2 160 110 3 160 150 4 120 170 Rata-rata 158 138 Standard deviasi (sd) 28,72 27,54 Varians (s2) 824,84 758,45 Perhitungan uji homogenitas: F hitung : varians terbesar varians terkecil : : 1,09 F 0,05 (3;3) : 9,28 F hitung > F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Konsumsi PK total
t hitung =
t hitung =



Lampiran 9. Lanjutan

=
=
= 1,00
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi PK rumput gajah


















Lampiran 10. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Protein Kasar (PK) Total

Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 gr/hari

660

560
2 540 610
3 680 710
4 530 670
Rata-rata 603 638
Standard deviasi (sd) 78,48 66,02
Varians (s2) 6.159,11 4.358,64

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,41
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Konsumsi PK total
t hitung =
t hitung =



Lampiran 10. Lanjutan

=
=
= 0,74
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi PK




























Lampiran 11. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konsumsi Protein Kasar (PK) Tercerna

Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 gr/hari

442

359
2 322 408
3 401 412
4 382 482
Rata-rata 387 415
Standard deviasi (sd) 49,98 50,75
Varians (s2) 2.498,00 2.575,56

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,03
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Konsumsi PK tercerna total
t hitung =
t hitung =



Lampiran 11. Lanjutan

=
=
= 0,79
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konsumsi PK tercerna























Lampiran 12. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Kecernaan Protein Kasar
(PK)

Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 %

66,42

64,04
2 58,08 66,72
3 56,99 57,93
4 72,13 72,08
Rata-rata 63,41 65,19
Standard deviasi (sd) 7,18 5,88
Varians (s2) 51,55 34,57

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,17
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Kecernaan PK
t hitung =
t hitung =




Lampiran 12. Lanjutan

=
=
= 0,38
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada kecernaan PK
















Lampiran 13. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Protein Kasar (PK) Feses
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 gr/hari

218

201
2 218 202
3 279 298
4 148 188
Rata-rata 216 222
Standard deviasi (sd) 53,74 51,09
Varians (s2) 2.887,99 2.610,19

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 2,36
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student PK Feses
t hitung =
t hitung =




Lampiran 13. Lanjutan

=
=
= 0,16
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada PK feses
















Lampiran 14. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Protein Kasar (PK) Urine
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 gr/hari

17

20
2 30 49
3 5 17
4 14 8
Rata-rata 17 24
Standard deviasi (sd) 10,35 17,52
Varians (s2) 107,12 306,95

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 2,42
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student PK Urine
t hitung =
t hitung =




Lampiran 14. Lanjutan

=
=
= 0,69
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada PK urine















Lampiran 15. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Protein Terdeposisi
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 gr/hari

425

339
2 292 359
3 396 395
4 368 474
Rata-rata 370 392
Standard deviasi (sd) 57,28 59,75
Varians (s2) 3.281,00 3.570,06

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,09
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Protein Terdeposisi
t hitung =
t hitung =




Lampiran 15. Lanjutan

=
=
= 0,53
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada kecernaan BK
















Lampiran 16. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Deposisi Protein
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 %

64,46

60,49
2 54,05 58,89
3 58,20 55,57
4 69,46 70,81
Rata-rata 61,54 61,44
Standard deviasi (sd) 6,79 6,57
Varians (s2) 46,10 43,16

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,07
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Protein Terdeposisi
t hitung =
t hitung =




Lampiran 16. Lanjutan.

=
=
= 0,02s
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada deposisi protein















Lampiran 17. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konversi PK Terkonsumsi
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH

1
0,50
0,50
2 0,64 0,69
3 0,52 0,49
4 0,59 0,61
Rata-rata 0,56 0,57
Standard deviasi (sd) 0,06 0,09
Varians (s2) 0,0036 0,0081

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,65
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student PK Terdeposisi
t hitung =
t hitung =





Lampiran 17. Lanjutan

=
=
= 0,2
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konversi PK terkonsumsi















Lampiran 18. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konversi PK tercerna
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH

1
0,34
0,32
2 0,38 0,46
3 0,31 0,28
4 0,42 0,44
Rata-rata 0,36 0,38
Standard deviasi (sd) 0,05 0,09
Varians (s2) 0,003 0,008

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 2,67
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Protein Terdeposisi
t hitung =
t hitung =





Lampiran 18. Lanjutan

=
=
= 0,4
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konversi PK tercerna















Lampiran 19. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Konversi PK terdeposisi
Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH

1
0,32 0,30
2 0,34 0,40
3 0,30 0,27
4 0,41 0,43
Rata-rata 0,35 0,35
Standard deviasi (sd) 0,05 0,08
Varians (s2) 0,003 0,006

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 2,00
F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Protein Terdeposisi
t hitung =
t hitung =





Lampiran 19. Lanjutan

=
=
= 0
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung < t tabel, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada konversi PK terdeposisi
















Lampiran 20. Uji Homogenitas dan Uji t-student untuk Pertambahan Bobot
Badan Harian (PBBH)

Ulangan Bangsa Sapi
Sapi PO Sapi PFH


1 kg/hari

1,31

1,12
2 0,85 0,89
3 1,3 1,45
4 0,9 1,10
Rata-rata 1,09 1,14
Standard deviasi (sd) 0,25 0,23
Varians (s2) 0,06 0,05

Perhitungan uji homogenitas:

F hitung : varians terbesar
varians terkecil

:
: 1,2

F 0,05 (3;3) : 9,28
F hitung < F tabel, maka data bersifat homogen
Uji t-student Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)
t hitung =
t hitung =



Lampiran 20. Lanjutan

=
=
= 0,29
t tabel (0,05; 6) = 1,943
t hitung  t tabel, maka tidak ada perbedaan yang nyata antara sapi PO dan sapi PFH pada PBBH.



























Lampiran 21. Hasil Analisis Pakan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar