Selasa, 28 September 2010

Retensi Protein Pada Sapi Peranakan Friesian Holstein Laktasi Yang Mendapatkan Hijauan Dengan Ukuran Potongan Berbeda (Protein Retention Of Lactation Friesian Holstein Crossbreed Feed by Dry Pasture With Different Size)

ABSTRAK

AGUNG NUGROHO. NIM H2B001002. 2005. Retensi Protein Pada Sapi Peranakan Friesian Holstein Laktasi Yang Mendapatkan Hijauan Dengan Ukuran Potongan Berbeda (Protein Retention Of Lactation Friesian Holstein Crossbreed Feed by Dry Pasture With Different Size.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian hijauan dengan ukuran potongan yang berbeda terhadap retensi protein pada sapi Peranakan Friesian Holstein ( PFH ) laktasi. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2004 di Laboratorium Ilmu Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi perah Peranakan Friesian Holstein (PFH) yang berjumlah 6 ekor dengan bobot badan sebesar 298,83 ± 42,79 kg (CV = 14,32 %), rerata produksi susu sebesar 4,65 ± 0,67 liter (CV = 14,46 %). Pakan yang diberikan berupa konsentrat dan rumput gajah. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) yaitu 2 RBSL 3x3. Data yang diperoleh dihitung dengan anova pada taraf kesalahan 5%. Perlakuan pakan yang diterapkan sebagai berikut :
T0 : 45 % konsentrat SP-4 + 55 % rumput gajah utuh
T1 : 45 % konsentrat SP-4 + 55% rumput gajah ukuran potong 40 – 60 cm
T2 : 45 % konsentrat SP-4 + 55 % rumput gajah ukuran potong 5 – 10 cm.
Parameter yang diamati meliputi konsumsi dan kecernaan bahan kering pakan, konsumsi dan kecernaan protein, protein yang terkandung dalam susu, feses dan urin, kadar urea dalam darah, serta pertambahan bobot badan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering pakan, konsumsi protein, konsentrasi urea dalam darah dan pertambahan bobot badan. Rata-rata konsumsi bahan kering ransum T0 = 10515,00 g/ekor/hr, T1 = 10381,33 g/ekor/hr dan T2 = 9629,33 g/ekor/hr. Konsumsi protein T0 = 1156,45 g/ekor/hr, T1 = 1157,54 g/ekor/hr dan T2 = 1047,28 g/ekor/hr; kecernaan BK T0 = 56,82%, T1 = 54,74% dan T2 = 55,41%; kecernaan PK T0 = 70,82%, T1 = 69,60 dan T2 = 70,28%; ekskresi protein T0 = 635,79 g/ekor/hr, T1 = 658,25 g/ekor/hr dan T2 = 667,09 g/ekor/hr; retensi protein T0 = 520,66 g/ekor/hr, T1 = 499,29 g/ekor/hr dan T2= 380,19 g/ekor/hr; PBBH T0 = 70 g/ekor/hr, T1 = 60 g/ekor/hr dan T2 = 110 g/ekor/hr. Rata-rata kadar urea dalam darah T0 = 23,67 mg/ dl, T1 = 22,66 mg/ dl dan T2 = 21,37 mg/ dl.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan hijauan dengan ukuran pemotongan yang berbeda tidak mempengaruhi konsumsi pakan, kecernaan bahan kering, kecernaan protein kasar, retensi protein maupun kadar urea darah
Kata kunci : ukuran hijauan, protein, sapi laktasi, urea darah


BAB 1


PENDAHULUAN


Pakan dibutuhkan ternak untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup dan produksi. Pakan harus mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, dan zat gizi lainnya untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut. Pakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik akan berdampak positif terhadap produktifitas ternak.
Pakan dikatakan baik apabila kandungan proteinnya cukup. Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup. Fungsi protein adalah sebagai unsur pembentuk struktur sel misalnya dalam rambut, wol, kolagen, jaringan penghubung, membran sel, dan lain-lain. Protein juga dapat berfungsi sebagai protein aktif misalnya enzim yang berperan dalam katalis segala proses biokimia dalam sel.
Biaya pakan mencakup lebih dari 50% dari total biaya suatu usaha peternakan, sehingga diperlukan pengetahuan lebih lanjut tentang nilai nutrisi, kecernaan dan metabolisme pakan sehingga dapat meningkatkan efisiensi pakan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperbaiki tata laksana pemberian pakan yang secara teknis dan ekonomis dapat memenuhi kebutuhan sapi perah. Salah satu cara untuk memperbaiki tata laksana pemberian pakan adalah dengan memperbaiki bentuk penyajian bahan pakan yang lebih disukai oleh ternak. Salah satu bentuk penyajian pakan hijauan untuk ternak ruminansia umumnya dan sapi perah khususnya dengan melakukan pemotongan hijauan, karena memudahkan sapi untuk mengkonsumsi hijauan yang disajikan sebagai pakan.
Peningkatan konsumsi hijauan dapat mempengaruhi daya cerna hijauan sehingga mempengaruhi jumlah protein yang dapat diserap oleh tubuh ternak. Terpenuhinya kebutuhan protein menyebabkan terciptanya proses metabolisme yang baik, sehingga pertumbuhan dapat berlangsung dengan baik, dan sel-sel yang rusak dapat diperbaiki. Tinggi rendahnya konsentrasi protein yang terserap ke dalam tubuh dapat juga dilihat dari tinggi rendahnya kadar urea yang ada dalam darah. Tidak semua protein yang dikonsumsi dapat dimanfaatkan oleh tubuh, protein yang tidak dapat diserap oleh tubuh akan dikeluarkan melalui urin dan feses.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian hijauan dengan ukuran potongan yang berbeda terhadap retensi protein pada sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) laktasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh pemberian hijauan dengan potongan berbeda terhadap retensi protein pada sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) laktasi.


BAB II


TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH)


Syarief dan Sumoprastowo (1990) menjelaskan bahwa sapi Friesian Holstein (FH) sudah banyak dikembangkan di Indonesia dan dengan adanya persilangan antara sapi FH dan sapi lokal dikenal dengan nama sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH). Sapi perah hasil persilangan menampilkan hasil paling ekonomis dengan diiringi perbaikan dalam pengelolaan dan perbaikan pakan secara perlahan-lahan (Williamson dan Payne, 1993).
Karakteristik umum sapi Holstein diantaranya yaitu, bentuk badan menyerupai baji, warna putih dengan belang hitam atau sebaliknya, kepala panjang, sempit dan lurus, tanduk mengarah ke depan dan membengkok ke dalam (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Lebih lanjut dijelaskan bahwa standar bobot badan sapi betina FH dewasa 650 kg, sedangkan pada sapi jantan FH dewasa 700 - 900 kg. Mahadevan, yang dikutip oleh Williamson dan Payne (1993) menjelaskan bahwa sapi Holstein produktif yang dipelihara di daerah tropik memiliki rerata produksi susu sebanyak 3.332 liter per laktasi. Sapi perah PFH memiliki besar tubuh dan produksi susu lebih rendah dibandingkan sapi perah FH tetapi mempunyai performan yang hampir sama (Muljana, 1985). Sapi perah PFH memiliki kemampuan berproduksi susu 1800 - 2000 kg/ laktasi dengan panjang laktasi rata-rata 9,5 bulan (Siregar, 1990).

2.2. Pakan


Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan yang secara umum dapat dikatakan bahwa bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan (Tillman et al., 1991). Kebanyakan pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis secara garis besarnya yaitu, hijauan dan konsentrat (Williamson dan Payne, 1993). Hijauan adalah bahan-bahan pakan dalam bentuk daun-daunan, kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting maupun bunga yang umumnya berasal dari tanam-tanaman sebangsa rumput (graminae, cyperaceae), daun kacang-kacangan (leguminosae) atau lainnya (Lubis, 1992). Lebih lanjut dijelaskan oleh Williamson dan Payne (1993) bahwa hijauan ditandai dengan jumlah serat kasar yang relatif banyak pada bahan keringnya. Konsentrat mengandung serat kasar yang lebih sedikit dari pada hijauan dan mengandung karbohidrat, protein dan lemak yang relatif banyak tetapi jumlahnya bervariasi dengan jumlah air yang relatif sedikit (Williamson dan Payne, 1993).
Daerah tropis yang suhunya relatif panas, kualitas hijauan cenderung lebih rendah sehingga kurang tepat bila hijauan diberikan sebagai satu-satunya bahan pakan sapi perah laktasi, maka pemenuhan zat-zat gizi yang tidak tersedia di dalam pakan hijauan dipenuhi melalui pakan konsentrat (Sutardi, 1981). Siregar (1990) menyatakan bahwa banyaknya bahan kering (BK) hijauan dalam ransum sebaiknya tidak lebih dari 2% dari bobot badan.


2.2.1. Rumput gajah (Pennisetum purpureum)


Rumput gajah (Pennisetum purpureum) adalah tanaman pirenial yang berasal dari Afrika Tropik, tingginya dapat mencapai 4,5 m dan lebar daun 8 - 35 cm (Reksohadiprodjo, 1994). Rumput gajah mempunyai panjang daun 16-90 cm. Rumput gajah baik digunakan untuk pakan karena penanaman mudah, produksi dan nilai nutrisinya tinggi (Lubis, 1992).
Rumput gajah dapat hidup pada curah hujan 1000 mm/th dengan jumlah produksi 250 ton/ha/th dalam bentuk segar (Kartadisastra, 1997). Kandungan gizi rumput gajah berdasarkan analisis proksimat adalah bahan kering (BK), protein kasar (PK), lemak, abu, serat kasar (SK) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) masing-masing adalah 22,2; 8,69; 2,71; 12,00; 32,2 dan 43,7% (Tillman et al., 1991). Pemotongan rumput gajah dilakukan 50 - 60 hari untuk pertama kalinya, sedangkan untuk selanjutnya 30 - 50 hari sekali (Reksohadiprodjo, 1994).

2.2.2. Konsentrat


Konsentrat adalah pakan yang mengandung (SK) kurang dari 18% dan mempunyai nilai gizi yang tinggi (Ensminger, 1969). Konsentrat merupakan pakan penguat yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar SK yang relatif rendah dan mudah dicerna. Fungsi pakan penguat ini adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng, 1996). Konsentrat mempunyai daya cerna yang tinggi, kandungan energi dan protein tinggi (NRC, 1978). Bahan pakan ini biasanya tersusun atas biji-bijian dan sisa hasil pengolahan industri pertanian (Ensminger, 1969).
Konsentrat pada umumnya berasal dari biji-bijian leguminosa, maupun bungkilnya. Konsentrat bisa dibedakan menjadi dua yaitu konsentrat sumber protein yang mengandung PK lebih dari 20 %, dan konsentrat sumber energi yang mengandung energi (TDN) lebih dari 65 %, sedangkan kandungan serat kasar (SK) konsentrat umumnya masih sangat rendah (Darmono, 1992). Dijelaskan lebih lanjut oleh Sosroamidjojo (1984), pakan konsentrat yang diberikan biasanya berupa campuran beberapa macam biji-bijian, dedak, gandum, bungkil kedelai, jagung dan beberapa macam bahan lainnya yang jumlahnya bervariasi untuk setiap jenisnya.

2.3. Potongan Hijauan


Hijauan rumput yang diberikan secara utuh diperkirakan hanya di konsumsi setengahnya, tapi bila di cacah sekitar 5 cm hijauan yang di konsumsi akan semakin meningkat (Mulyana, 1985). Dijelaskan lebih lanjut bahwa hijauan yang di cacah akan mempertinggi konsumsi pakan karena beberapa bagian batang yang agak keras dapat dikonsumsi dan kemungkinan tercemar oleh kotoran (feses) dan urin semakin sedikit, Tillman et al. (1991) menambahkan bahwa pemberian pakan yang diperlakukan dengan dipotong-potong atau digiling dapat meningkatkan kecernaan dan konsumsi pakan.
Hijauan dengan kandungan lignin tinggi mempunyai palatabilitas dan konsumsi pakan yang rendah dibandingkan dengan hijauan dengan kandungan lignin rendah (Arora, 1995). Perlakuan terhadap bahan pakan seperti pemotongan, penggilingan dan pemasakan akan mempengaruhi daya cerna (Tillman et al., 1991).
Hijauan yang diberikan pada ternak sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3 - 5 cm (Kartadisastra, 1997). Hijauan yang dicacah atau dipotong-potong dapat mempercepat aliran, mengurangi pencernaan dalam rumen, meningkatkan kandungan BK dalam chyme deudenum, menurunkan daya cerna selulosa dan meningkatkan asimilasi protein (Arora, 1995). Pemotongan agak panjang pada hijauan, tidak banyak pengaruhnya terhadap nilai nutrisi hijauan tetapi pemotongan hijauan dilakukan untuk memperbaiki penanganan pakan (Minson yang disitasi Parakkasi, 1999). Nilai nutrisi hijauan tergantung pada komposisi, daya cerna dan jumlah yang di makan atau jumlah yang akan dicerna oleh setiap ternak dalam periode tertentu (Williamson dan Payne, 1993).
Hijauan harus mengalami perlakuan pemotongan atau pencacahan karena akan mengurangi pemilihan bagian-bagian yang mudah dicerna oleh hewan sehingga mengurangi daya cerna secara keseluruhan (Tillman et al., 1991). Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsumsi pakan bertambah jika diberikan pakan berdaya cerna lebih tinggi dari pada pakan berdaya cerna rendah. Hijauan mempunyai daya cerna yang tidak tetap tergantung dari komposisi SK-nya (Tillman et al., 1991).



2.4. Kebutuhan Zat Pakan

Table 1. Standar Kebutuhan Nutrisi Untuk Sapi Perah Laktasi per Hari (Kartadisastra, 1997)

Kebutuhan Nutrisi per Hari
Jenis/Fase BB(Kg) PBBH(Kg) BK(Kg) EM(Mcal) P(gr)
Pertumbuhan 50 0,65 1,4 3,6 265
100 0,75 2,8 6,9 390
200 0,75 7,0 14,5 610
400 0,70 10,2 20,6 820
Betina NE-s
Hidup Pokok 350 6,9 5,0 10,1 469
(HP) 450 8,3 6,0 12,3 585
550 9,6 7,0 14,4 691
650 10,9 8,0 16,2 776
HP + 350 8,7 6,4 13,0 570
Reproduksi *) 450 10,7 7,9 15,9 730
550 12,6 9,3 18,8 850
650 14,4 10,6 21,6 960
Produksi % lemak
(per kg susu) 2,5 0,59 - 0,91 66
3,0 0,64 - 0,99 70
3,5 0,69 - 1,06 74
4,0 0,74 - 1,13 78
Keterangan :BB= Bobot Badan, PBBH=Pertambahan Bobot Badan Harian, BK= Bahan Kering, EM= Energi Metabolis, P= Protein
NE-s= Energi netto untuk produksi susu, HP= Hidup Pokok
*)= 2 bulan menjelang beranak
Pada laktasi I ditambah 20% dari kebutuhan hidup pokok
Pada laktasi II ditambahkan 10% dari kebutuhan hidup pokok

Sapi perah tergolong ruminansia, sehingga ransum yang diberikan sebaiknya terdiri atas hijauan legume dan non-legum yang berkualitas bagus dengan konsentrat yang tinggi kualitas serta palatabilitasnya (Blakely dan Bade, 1998). Kebutuhan zat makanan bagi sapi perah tergantung kebutuhan untuk hidup pokok ditambah jumlah zat-zat makanan yang terdapat dalam susu yang disekresikan, yang tergantung dari jumlah dan komposisi zat-zatnya (Tillman et al., 1991).
Sapi yang baru masuk kelompok laktasi haruslah diberi sejumlah konsentrat sebanyak yang dapat dihabiskan dengan aman ( sekitar 0,9 kg sampai 2,25 kg untuk tiap 45 kg bobot badan), tingginya pemberian konsentrat bertujuan untuk mensuplai energi tambahan yang diperlukan untuk produksi susu maksimum yang tidak akan dapat dipenuhi oleh hijauan saja (Blakely daan Bade, 1998).

2.5. Konsumsi Pakan


Konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri). Faktor-faktor tersebut antara lain adalah temperatur lingkungan, palatabilitas, selera ternak, status fisiologi, konsentrasi nutrisi, bentuk pakan, bobot badan dan produksi (Kartadisastra, 1997). Menurut Parakkasi (1999), tinggi rendahnya konsumsi pakan dapat dipengaruhi oleh hewannya sendiri, pakan yang diberikan dan lingkungan tempat hewan dipelihara. Menurut Chamberlain (1993), konsumsi (BK) pakan dipengaruhi oleh faktor hewannya sendiri dan pakan yang diberikan seperti kecernaan dan bentuk pakannya, selanjutnya dijelaskan bahwa stres pada ternak akan menurunkan konsumsi pakan dengan sangat cepat terutama dari panas, kelembaban dan penyakit.
Konsumsi pakan akan lebih banyak jika aliran pakan cepat karena ukuran partikel yang kecil akan menaikan konsumsi pakan dari pada ukuran partikel yang besar (Arora, 1995). Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsumsi pakan bertambah jika diberikan pakan berdaya cerna lebih tinggi dari pada pakan berdaya cerna rendah. Hijauan mempunyai daya cerna yang tidak tetap tergantung dari komposisi SK-nya (Tillman et al., 1991). Kecernaan pakan adalah faktor utama yang mengontrol “rate of passage” pada saluran pencernaan (Chamberlain, 1993). Selanjutnya dijelaskan bahwa semakin tinggi kecernaan pakan maka akan semakin cepat pakan tersebut menghilang dari rumen menuju saluran berikutnya sehingga mempengaruhi konsumsi pakan. Menurut pendapat Soebarinoto et al. (1991), perbedaan kemampuan ternak dalam mengkonsumsi pakan disebabkan oleh aspek individu, spesies dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan.

2.6. Protein


Protein merupakan unsur nutrisi yang tidak kalah pentingnya dengan unsur nutrisi yang lainnya, bahkan sangat dibutuhkan oleh ternak dalam jumlah relatif besar, terutama ternak yang sedang dalam masa pertumbuhan, bunting maupun laktasi (Kartadisastra, 1997). Protein merupakan senyawa organik kompleks yang mempunyai berat molekul tinggi yang mengandung unsur-unsur karbón, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur dan beberapa protein yang mengandung fosfor (Tillman et al., 1991). Ditambahkan Maynard et al. (1979), bahwa protein mengandung 51 - 55% karbón; 6,5 - 7,3% hidrogen; 15,5 - 18% nitrogen; 21,5 - 23,5% oksigen; 0,5 - 2% sulfur; dan 1,5% fosfor. Enzim, hormon, pigmen pembawa oksigen darah, kolagen, antibodi, dan unit kimia pada transmisi penurunan sifat (hereditas) adalah protein, protein terdapat dalam semua sel hidup dan turut berpartisipasi dalam semua fase aktifitas sel, protein juga merupakan unsur yang menyusun semua jaringan tubuh yang lunak (Williamson dan Payne, 1993).
Molekul protein adalah sebuah polimer dari asam-asam amino yang digabungkan dengan ikatan-ikatan peptida (Tillman et al., 1991). Kualitas protein ditentukan oleh perbandingan asam amino esensial dan asam amino non-esensial yang secara relatif tidak penting bagi ruminansia (Arora, 1995). Bakteri dan protozoa dalam saluran pencernaan mensintesis asam amino (termasuk yang esensial) dari protein pakan dan nitrogen yang bukan protein, protein mikrobia yang dihasilkan kemudian dicerna oleh ternak pada bagian bawah dari saluran pencernaan dengan produksi semua asam amino yang dibutuhkan oleh ternak untuk sintesa protein (Williamson dan Payne, 1993).
Protein dalam tubuh ternak akan disimpan dalam daging, organ internal dan jaringan bawah kulit (Anggorodi, 1994). Lebih lanjut dijelaskan bahwa protein dalam tubuh ternak berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh dan pertumbuhan jaringan baru.

2.7. Metabolisme Protein


Protein untuk ternak ruminansia dan untuk ternak non-ruminansia tidak sama, karena protein didalam tubuh ternak non-ruminansia (monogastrik) hampir seluruhnya akan diubah menjadi asam-asam amino, sedangkan pada ruminansia protein akan diubah menjadi peptida-peptida, asam-asam amino dan amonia (NH3) (Soebarinoto et al., 1991). Menurut Frandson (1994) protein pakan pada ruminansia dapat mengalami 3 kemungkinan, yaitu : 1), protein pakan digunakan oleh mikrobia rumen, 2) protein mengalami “recyling” sebagai urea (NH3) dan asam amino, dan 3) protein melewati rumen tanpa perubahan (protein “by pass”).
Proses metabolisme protein menurut Arora (1995) secara keseluruhan dapat dilihat pada Ilustrasi 1. Protein kasar yang masuk delam retikulo-rumen berasal dari pakan dan saliva, protein kasar tersebut dapat berupa protein murni dan Nitrogen Non Protein (NPN) seperti amida, amina, urea, garam-garam amonium dan lain-lainnya (Soebarinoto et al., 1991). Seluruh protein yang berasal dari pakan pertama kali dihidrolisa oleh mikroba rumen, yang tingkat hidrolisannya tergantung dari daya larutnya yang berkaitan dengan kenaikan kadar amonia (Arora, 1995). Menurut Prawirokusumo (1994), sebagian protein yang tahan terhadap degradasi mikroba rumen langsung masuk ke dalam abomasum dan usus halus serta mengalami pencernaan oleh enzim hewan induk semang seperti pada non-ruminansia (disebut by pass protein). Ditambahkan Soebarinoto et al. (1991), bahwa protein yang selamat dari proses degradasi rumen berkisar antara 20-80% tergantung dari daya larutnya di dalam cairan rumen. Proses hidrolisa protein menjadi asam amino diikuti oleh proses deaminasi untuk membebaskan amonia, kecepatan deaminasi biasanya lebih lambat dari pada proteolisis, karena terdapat konsentrasi asam-asam amino dan peptida yang lebih besar setelah makan lalu diikuti oleh konsentrasi amonia kira-kira 3 jam setelah makan (Arora, 1995).
Amonia yang terbentuk di dalam rumen sebagian besar akan digunakan oleh mikroba untuk membentuk protein tubuh dan sebagian lainnya dibawa ke hati dan diubah menjadi urea (Soebarinoto et al., 1991). Urea sebagian besar akan keluar melalui ginjal dan dikeluarkan bersama urin, sebagian akan masuk kembali dalam rumen melalui saluran darah atau lewat saliva (Arora, 1995).
























Protein dicerna menjadi asam-asam amino yang diabsopsi ke dalam vena porta dan kemudian diangkut ke hati untuk disimpan menjadi cadangan asam-asam amino, yang dapat digunakan untuk sintesis protein jaringan dan senyawa nitrogen lainnya. Apabila persediaan asam-asam amino dalam tubuh melebihi kebutuhan maka kelebihan tersebut akan digunakan untuk menghasilkan energi (Soebarinoto et al., 1991). Lebih lanjut dijelaskan bahwa tahap pertama dari degradasi asam amino adalah deaminasi yang dapat dilakukan secara oksidatif maupun non-oksidatif dan asam-asam amino yang berlebihan akan dideaminasi oleh hati menjadi amonia dan asam-asam alfa-keto.
Masyarakat sering menggunakan urea sebagai sumber Nitrogen (N), namun demikian pemakaian urea sering menimbulkan masalah yaitu meningkatkan kadar asam-asam lemak tak teresterifikasi dan badan keton di dalam darah (Arora, 1995). Urea oleh mikroba rumen akan diubah menjadi ammonia dan CO2; untuk sintesis protein, mikroba membutuhkan sejumlah besar asam-asam organik yang dapat disediakan secara efektif oleh karbohidrat pakan berupa biji-bijian atau sumber pati yang lain yang mudah difermentasi (Soebarinoto et al., 1991).

2.8. Retensi Protein

Retensi protein atau nitrogen merupakan istilah yang digunakan dalam neraca keseimbangan nitrogen (N) yang berarti protein atau nitrogen yang tertinggal dalam tubuh, retensi protein dihitung dengan pengurangan dari jumlah protein konsumsi dikurangi dengan protein feses dan protein urin (Crampton dan Harris, 1969; Piliang dan Djojosoebagio, 1991; Prawirokusumo, 1994). Dijelaskan lebih lanjut oleh Campton dan Harris (1969) bahwa neraca nitrogen ini dapat digunakan untuk mengetahui banyaknya nitrogen yang diretensi, untuk produksi, pertambahan bobot badan dan berbagai fungsi lainnya. Deposisi protein adalah banyaknya protein yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh yang dihitung dari jumlah protein yang dikonsumsi dikurangi dengan protein feses dan protein urin dalam bentuk persentase (Ranjhan, 1977; Boorman, 1980).
Neraca nitrogen dapat bernilai positif yang berarti terjadi retensi dan ternak dimungkinkan dapat meningkatkan bobot badannya, neraca nitrogen negatif berarti terjadi penurunan bobot badan karena adanya penggunaan protein tubuh untuk mencukupi kebutuhan hidup dan produksi, neraca nitrogen nol berarti tidak terjadi pertambahan bobot badan karena nitrogen yang masuk sama dengan yang dikeluarkan (Maynard et al., 1979)
Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi protein atau neraca nitrogen adalah konsumsi protein, kualitas protein dan suplai energi (Boorman, 1980), sedangkan menurut Orskov (1992) adalah pakan, jenis kelamin, genetik dan kondisi fisiologis ternak. Menurut Piliang dan Djojosoebagio (1991) neraca nitrogen juga dipengaruhi oleh hilangnya komponen nitrogen dalam tubuh yaitu melalui urin dan feses, sedangkan menurut Tamminga (1992) hilangnya nitrogen dalam tubuh sapi perah melalui bakteri rumen, urin dan feses







2.9. Urea darah


Urea merupakan suatu senyawa dengan rumus kimia (NH2)2CO2 yang mengandung nitrogen yang cukup tinggi, yaitu sekitar 47% dan merupakan hasil akhir dari metabolisme nitrogen (Adiati, 1995). Urea darah merupakan senyawa yang terdapat di dalam darah yang berasal dari amonia sebagai hasil fermentasi di dalam rumen (Church, 1993) dan dari amonia sebagai hasil hidrólisis urea pakan dengan bantuan urease di dalam rumen (Adiati, 1995). Urea adalah hasil akhir dari metabolisme protein dalam tubuh hewan dan diekskresikan melalui urine, sedangkan urea darah berasal dari amonia rumen dan sisa katabolisme asam amino (Tillman et al., 1991), sehingga kadar urea darah sebanding dengan kadar amonia rumen (Parakkasi, 1999). Konsentrasi urea darah secara proposional sebanding dengan ekskresi urea urine dan memiliki hubungan erat dengan urea susu (Roseler et al. yang disitasi oleh Sannes et al., 2002),
Urea merupakan salah satu sumber nitrogen yang sangat dibutuhkan oleh mikroba rumen, namun penggunaannya harus disertai dengan karbohidrat yang mudah dicerna “readly fermentable” dalam bentuk gula sederhana (Orskov, 1992; Haryoko et al. 2001). Houpt yang disitasi oleh Church (1993), menyatakan bahwa 52% urea darah yang disertai dengan ketersediaan sumber energi (karbohidrat) akan dimanfaatkan kembali untuk sintesis protein, jika konsumsi protein atau “protein intake” rendah; dan apabila sumber energi tidak tersedia maka pemanfaatannya akan menurun menjadi 22%. Efisiensi penggunaan urea akan menjadi rendah apabila kandungan protein kasar yang terdapat di dalam ransum sekitar 13% (Parakkasi, 1999).
Pembentukan urea merupakan suatu proses yang mahal bila dipandang dari penggunaan energi karena membutuhkan 3 mol ATP (Tillman et al., 1991; Soebarinoto et al., 1991; Murray et al., 1999). Dijelaskan lebih lanjut oleh Murray et al. (1999) bahwa proses perubahan amonia menjadi urea melalui beberapa tahap, yaitu pertama-tama amonia diubah menjadi karbomil fosfat yang kemudian masuk ke siklus urea. Siklus urea akan mengubah karbomil fosfat dengan bantuan kerja enzim Ornitin Transkarbamoilase menjadi L–Sitrulin dan melepaskan Fosfat kemudian L-Sitrulin dengan penambahan + 2 mol ATP akan melepaskan AMP dan PP. Enzim Asam Argininosuksinat sintetase berperan didalam mengubah L-Aspartat menjadi Argininosuksinat. Melalui bantuan enzim argininosuksinase, Argininosuksinat diubah menjadi L-Arginin dengan melepaskan Urea dan L-Ornitin yang digunakan untuk mengulangi siklus kembali (Ilustrasi 2).
Metabolisme asam amino menjadi energi akan meningkatkan kadar urea darah (Murray et al. 1999). Menurut Arora (1995) tingginya kadar urea darah dapat berarti kurangnya pemanfaatan amonia rumen untuk membentuk protein mikroba, sedangkan kadar urea darah yang rendah berarti pemanfaatan amonia oleh mikroba sangat tinggi. Kecepatan pembentukan amonia lebih besar dari pada penggunannya maka amonia akan diserap kedalam darah dan diubah menjadi urea. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan ternak memanfaatkan amonia rumen untuk mensintesis protein mikroba (Arora, 1995). Tillman et al. (1991) berpendapat bahwa konsentrasi urea darah bervariasi tergantung dari level protein ransum, bila protein ransum bertambah maka menyebabkan bertambahnya produksi amoniak rumen dan amoniak darah yang dapat menyebabkan bertambahnya produksi urea darah.
Chalupa yang disitasi oleh Church (1993) menyatakan bahwa kandungan urea dalam darah tidak boleh terlalu tinggi dan produksi amonia tidak boleh terlalu cepat, karena hal ini dapat menyebabkan gangguan pada metabolisme karbohidrat dan gangguan syaraf sehingga mengakibatkan kematian pada ternak. Menurut Hungate (1966) konsentrasi urea darah dalam keadaan normal berkisar antara 1,6 – 3,4 mmol/ l atau setara dengan 26,6 – 56,6 mg/ 100 ml, sedangkan menurut Bondi (1987) batasan maksimal kadar urea darah adalah 80 mg/ dl. Batasan ini mengindikasikan bahwa ternak berada dalam kondisi keracunan apabila kadar urea darah diatas 80 mg/ dl dan ternak dalam kondisi normal apabila kadar urea darah berada pada kisaran dibawah 80 mg/ dl.
CO2 + NH3
2 ATP Urea H2O

2 ADP Fumarat
Karbamoil Fosfat L – Ornitin L – Arginin
P

L – Sitrulin

L – Aspartat Argininosuksinat
ATP AMP + P



Ilustrasi 2. Siklus Urea (Murray et al., 1999)





BAB III

METODOLOGI

Penelitian mengenai retensi protein pada Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) akibat pemberian hijauan dengan level ukuran yang berbeda dilaksanakan pada bulan September - Desember 2004 Laboratorium Ilmu Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

3.1. Materi


Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6 ekor sapi perah PFH. Sapi PFH yang digunakan memiliki kriteria sebagai berikut :1) Rerata bobot badan sebesar 298,83 ± 42,79 kg (CV = 14,32 %). 2) Rerata produksi susu sebesar 4,65 ± 0,67 liter (CV = 14,46 %). 3) Bulan laktasi ke 6, 7 dan 8. 4) Periode laktasi ke – 2. dan 5) Kondisi sehat.
Kandang yang digunakan bertipe “tail to tail” dengan kapasitas 12 ekor, dilengkapi dengan palung pakan, tempat minum dan gudang pakan. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain ember, sikat, selang air, sapu lidi dan sekop, timbangan merek “Sima” kapasitas 2000 kg, ketelitian 1 kg untuk menimbang ternak, timbangan merek “Five Goats” kapasitas 5 kg dan ketelitian 20 gram untuk menimbang bahan pakan. Peralatan yang mendukung pengambilan data retensi protein berupa harness sebagai alat penampung feses dan urin, serta derigen; bahan yang digunakan dalam pengambilan sample adalah reagen H2SO4 pekat yang diencerkan dengan aquades dengan perbandingan 1 : 6, sedangkan alat yang dipergunakan dalam pengambilan sample urea darah adalah spuit kapasitas 10 ml; tabung reaksi kapasitas 10 ml; termos es dan kapas; serta sentrifuse.
Pakan yang digunakan dalam penelitian yaitu rumput Gajah, konsentrat yang digunakan merupakan konsentrat jadi yang berasal dari perusahaan Netas, Ungaran, Jawa Tengah. Hasil analisis proksimat pakan dicantumkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Analisis Proksimat Pakan Penelitian

No Bahan Pakan
Kandungan Nutrisi Bahan
BK Abu PK LK SK

1
2
Rumput Gajah
Konsentrat ---------------------------- % --------------------------
20,19
90,11 4,11
14,95 4,77
7,24 0,78
4,00 15,24
24,28
Keterangan: Hasil Analisis di Laboratorium Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada.


3.2. Metode Penelitian


Metode percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) yaitu 2 RBSL 3x3 (Gaspersz, 1991).
Data Denah percobaan 2 RBSL 3 x 3 sebagai berikut:

Lajur
Periode RBSL I RBSL II
1 2 3 4 5 6
I T0 T1 T2 T2 T0 T1
II T1 T2 T0 T1 T2 T0
II T2 T0 T1 T0 T1 T2
Keterangan: T = Perlakuan.

Perlakuan yang diterapkan sebagai berikut: :
T0 : 45 % konsentrat SP-4 + 55 % rumput Gajah dengan ukuran 220 – 260 cm (utuh)
T1 : 45 % konsentrat SP-4 + 55% rumput Gajah ukuran pemotongan 40 – 60 cm
T2 : 45 % konsentrat SP-4 + 55 % rumput Gajah dengan ukuran 5 – 10 cm


3.3. Prosedur Penelitian

Penelitian yang dilakukan meliputi tahap persiapan, tahap pendahuluan dan tahap pengambilan data. Tahap persiapan dilakukan selama 1 bulan, kegiatan yang dilakukan pada periode persiapan adalah persiapan ternak, kandang dan pakan, pemberian obat cacing serta mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk penelitian. Tahap ini juga dilakukan penimbangan ternak untuk mengetahui bobot badan sapi, pencatatan produksi susu dan kadar lemak untuk menghitung kebutuhan pakan. Tahap ini dilakukan adaptasi ternak dengan cara menempatkan sapi-sapi perlakuan didalam kandang sesuai dengan urutan perlakuan dan pakan diberikan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Hijauan diberikan dua jam setelah pemberian konsentrat. Konsentrat diberikan setelah pemerahan. Air minum diberikan secara ad libitum.
Tahap pendahuluan dilakukan selama 6 hari. Sapi-sapi perlakuan diberi pakan sesuai perlakuan yang bertujuan untuk menghilangkan pengaruh ransum sebelumnya. Pakan yang diberikan disusun berdasarkan bobot badan, produksi susu dan kadar lemak (NRC, 1978). Perlakuan pakan yang diberikan adalah hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 55% : 45%.

Kegiatan pengumpulan data dilakukan sebanyak tiga periode, setiap periode selama 14 hari pengambilan data, setiap pergantian periode diawali dengan enam hari tahap pendahuluan. Pergantian periode perlakuan bertujuan untuk melakukan pergantian perlakukan sehingga setiap ekor sapi akan memperoleh semua perlakuan yang diterapkan di dalam penelitian. Pengumpulan sampel susu, feses dan urine dilakukan pada saat total koleksi selama lima hari berturut-turut. Sampel urine diambil secara proposional setiap hari dengan penentuan nilai proporsinya didapat dari pengambilan sampel hari pertama. Urine yang diambil sebanyak 1 kg dari total urin pada hari pertama. Pengambilan urine pada hari berikutnya disesuaikan proporsinya dengan pengambilan pada hari pertama. Hasil total koleksi urin selama 5 hari dicampur hingga homogen, kemudian diambil sample untuk dianalisis. Sampel feses diambil 1 kg. Pengambilan sampel feses pada hari berikutnya disesuaikan proporsinya dengan pengambilan pada hari pertama. Sampel yang diambil selama 5 hari kemudian dikeringkan, setelah kering ditumbuk dan dicampur sampai homogen, lalu diambil sub sampel untuk dianalisis. Pengambilan sampel darah untuk analisis kandungan urea darah dilakukan melalui vena jugularis pada minggu keempat yang dilakukan hanya sekali yaitu pada 3 jam setelah ternak makan. Sampel darah yang telah diambil kemudian diberi antikoagulan NaCl2 dan dimasukkan ke dalam termos yang berisi uap es. Setelah didiamkan selama 5 jam kemudian sampel darah disentrifuse dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit untuk memisahkan serum dan plasma darah. Setelah didapatkan serum, sampel dianalisis kadar ureanya.

3.4. Parameter Penelitian


Parameter yang diamati dalam penelitian adalah konsumsi bahan kering (BK) pakan, pertambahan bobot badan, jumlah protein kasar (PK) yang di konsumsi, jumlah PK yang terkandung dalam feses, jumlah PK yang terkandung dalam urin, dan retensi protein, selain itu juga dilakukan pengambilan darah untuk dianalisis kadar urea darahnya. Pakan yang dikonsumsi diukur dengan menghitung selisih antara pakan yang diberikan dengan pakan yang tersisa. Cara menghitung parameter penelitian adalah sebagai berikut (Crampton dan Harris, 1969; Piliang dan Djojosoebagio, 1991; Prawirokusumo, 1994):
Konsumsi protein = (konsumsi BK rumput gajah x % protein rumput gajah) + (konsumsi BK konsentrat x % protein konsentrat)
Protein dalam feses = jumlah BK feses x % protein feses
Protein dalam urine = jumlah BK Urine x % protein Urine
Konsumsi protein tercerna = konsumsi protein – protein feses – protein urine
Kecernaan protein = kons. protein – protein feses/kons. protein x 100%
Retensi protein = jumlah protein yang terkonsumsi – (protein feses + protein urine)
Deposisi protein = (kons. protein – protein feses – protein urine) / kons. Protein x 100%



3.5. Analisis Data

Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan dihitung dengan anova untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada taraf kesalahan 5%. Formula yang digunakan untuk melakukan analisis data menurut Gaspersz (1991) menggunakan model matematik sebagai berikut

Yijk = μ + αi + βj + γk + εijk

Keterangan :
i = perlakuan 1, 2, 3, …i, …, t. (t = ukuran potongan hijauan)
j = baris 1, 2, 3, …j, …, b. (b = periode)
k = lajur ke 1, 2, 3, …k, …, m. (m = sapi), dalam hal ini i = j = k
Yijk = angka pengamatan dari perlakuan ke-i, baris ke-j, dan lajur ke-k
μ = nilai tengah seluruh perlakuam
αi = pengaruh perlakuan ke-i
βj = pengaruh baris ke-j
γk = pengaruh lajur ke-k
εijk = galat acak yang timbul dari perlakuan ke-i, baris ke-j dan lajur ke-k
Hipotesis penelitian sebagai berikut :

µ0 = µ1 = µ2
H0 : pemberian hijauan dengan ukuran pemotongan yang berbeda tidak bengaruh terhadap retensi protein dan kadar urea darah sapi PFH laktasi.
H1 : pemberian hijauan dengan ukuran pemotongan yang berbeda berpengaruh terhadap retensi protein dan kadar urea darah sapi PFH laktasi.
H0 di terima jika F hitung < F table 5% H1 di terima dan H0 di tolak jika F hitung > F table 5%.



BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Konsumsi Bahan Kering dan Kecernaan Pakan

Rata-rata konsumsi BK pakan dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil uji statistik terhadap konsumsi BK pakan antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05). Perhitungan selengkapnya dicantumkan pada Lampiran 3. Tidak adanya perbedaan terhadap konsumsi BK disebabkan karena perlakuan berupa pemotongan pakan hijauan tidak mempengaruhi pola pengunyahan pakan hijauan. Ukuran rahang dan rongga mulut diduga juga menyebabkan pemotongan hijauan sampai 5 cm tidak mempengaruhi pola pengunyahan dan cara pengambilan pakan.
Tabel 3. Rata-rata Konsumsi BK total, Konsumsi BK rumput Gajah, Konsumsi BK Konsentrat, Konsumsi BK Tercerna, BK Feses dan Kecernaan BK.

Parameter Perlakuan
T0 T1 T2
----------------- g/ ekor/ hari ----------------------
Konsumsi BK Total 10515,00 10381,33 9629,33
Rumput Gajah 4246,00 4407,33 3727,67
Konsentrat 6269,00 5974,00 5901,67
BK Feses 4557,14 4572,34 4248,45
BK Urin 0,24 0,24 0,23
BK Tercerna 6202,86 5605,66 5339,13
--------------------------- %--------------------------
Kecernaan BK 56,82 54,74 55,41

Konsumsi BK pada penelitian ini merupakan jumlah konsumsi BK hijauan dan konsumsi BK konsentrat, yang dalam uji statistik konsumsi BK hijauan (Lampiran 1) dan konsumsi BK konsentrat (Lampiran 2) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Konsumsi pakan dipengaruhi oleh palatabilitas pakan, sedangkan perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi tingkat palatabilitas hijauan sehingga belum mampu menaikkan konsumsi pakan ternak walaupun sudah dilakukan pemotongan sampai dengan 5 cm. Pengaruh pemotongan terhadap konsumsi pakan hijauan pada penelitian ini berbeda dengan pendapat Kartadisastra (1997), yang menyatakan bahwa hijauan yang mendapat perlakuan pemotongan akan dapat mempengaruhi konsumsi pakan hijauan. Pemotongan hijauan menjadi lebih kecil seharusnya dapat meningkatkan konsumsi pakan karena menurut Arora (1995), ukuran partikel pakan yang kecil akan menaikkan konsumsi pakan karena aliran pakan dalam saluran pencernaan semakin cepat.
T0, T1 dan T2 mendapatkan pakan yang sama yaitu rumput Gajah dan konsentrat sehingga kandungan nutrisi pakan yang didapat T0, T1 dan T2 sama, Kartadisastra (1997), menyatakan bahwa kandungan nutrisi pakan terutama kandungan konsentrasi energi yang sama merupakan faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi pakan. Dilaporkan Aniyah (2004), bahwa pemberian pakan hijauan dengan ukuran pemotongan sampai 5 cm tidak mempengaruhi konsumsi energi pakan.
Tidak adanya pengaruh potongan terhadap konsumsi BK pakan disebabkan karena sapi yang digunakan dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin, umur, genetik dan bangsa yang sama, sehingga kebutuhan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi yang hampir sama, mengakibatkan kebutuhan dan kemampuan dalam mengkonsumsi BK relatif sama. Soebarinoto et al. (1991), yang menyatakan bahwa perbedaan kemampuan ternak dalam mengkonsumsi pakan disebabkan oleh aspek individu, spesies, bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan. Sapi dengan bobot badan yang hampir sama (CV RBSL 1 = 12,79%; CV RBSL 2 = 12,16%) juga dapat menyebabkan konsumsi ternak tidak berbeda. Bobot badan dapat mempengaruhi konsumsi BK pakan sesuai dengan pendapat Kearl (1982); Parakkasi (1999) yang menyatakan konsumsi pakan dipengaruhi oleh bobot badan dan fisiologis ternak.
Rerata BK tercerna dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil uji statistik terhadap kecernaan BK pakan antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan (Lampiran 4), hal ini disebabkan karena kemampuan mencerna pakan T0, T1 dan T2 yang sama. Kemampuan mencerna pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya degradasi pakan oleh mikroba rumen dan aktifitas kunyah. Pemotongan hijauan sampai 5 cm tidak mempengaruhi degradasi pakan oleh mikroba rumen karena ukuran potongan tersebut belum dapat memperluas area degradasi pakan oleh mikroba di dalam rumen. Luas area degradasi pakan dalam rumen yang hampir sama menyebabkan laju proses pencernaan pakan juga tidak berbeda karena laju proses pencernaan pakan ditentukan oleh lamanya pakan berada di dalam rumen dan jumlah populasi mikroba rumen. Semakin banyak mikroba rumen dan semakin lama pakan berada di rumen maka semakin banyak pakan yang dapat dicerna. Menurut Cambell dan Lasley (1985), tingkat kecernaan pakan dapat dipengaruhi oleh laju pakan dalam saluran pencernaan. Hasil kecernaan BK pakan ini juga sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991), yang menyatakan bahwa pakan yang banyak dikonsumsi dapat menyebabkan laju aliran pakan di dalam saluran pencernaan menjadi cepat, dan waktu untuk proses pencernaan menjadi terbatas, sehingga mengakibatkan kecernaan pakan menjadi turun. Dilaporkan Riyanti (2005) bahwa pemberian pakan hijauan dengan ukuran pemotongan sampai 5 cm tidak mempengaruhi aktifitas kunyahan dengan nilai T0= 27.745 kali/hari, T1= 28.987 kali/hari dan T2= 29.843 kali/hari.
Pemberian pakan pada penelitian ini dilakukan dua kali dalam satu hari yaitu pagi dan sore hari setelah pemerahan dan menurut Siregar (1990), frekuensi pemberian pakan yang lebih sering dapat meningkatkan kemampuan sapi untuk mengkonsumsi pakan dan juga meningkatkan kecernaan bahan pakan. Ditambahkan Collier (1985) kandungan dan kondisi pakan yang diberikan secara langsung berpengaruh terhadap pusat syaraf dan akan mempengaruhi konsumsi BK. Hal ini disebabkan karena jumlah konsumsi pakan dipengaruhi oleh hypothalamus yaitu lateral hypothalamus (syaraf pengatur makan) dan ventromedial nucleus (syaraf pengatur kekenyangan), sedangkan hypothalamus dipengaruhi oleh status fisiologis, temperature lingkungan dan umpan balik sensor dari saluran pencernakan.

4.2. Retensi Protein


Hasil penelitian mengenai konsumsi PK, pengeluaran PK, PK tercerna, kecernakan PK, retensi PK, dan PBBH dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Konsumsi PK total, Total pengeluaran PK, PK tercerna, Kecernakan PK, Retensi PK dan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH).

Parameter Perlakuan
T0 T1 T2
----------------- g/ ekor/ hari ----------------------
Total konsumsi PK 1156,45 1157,54 1047,28
Rumput gajah 652,39 677,18 572,75
Konsentrat 504,07 480,36 474,53
Total pengeluaran PK 635,79 658,25 667,09
Feses 342,44 334,48 310,44
Urin 293,35 323,78 356,65
PK tercerna 814,01 823,06 736,84
Retensi PK 520,66 499,29 380,19
PBBH 70 60 110
--------------------------- %--------------------------
Kecernaan PK 70,82 69,60 70,28

Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa konsumsi PK total sapi-sapi perlakuan tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05). Perhitungan statistik dicantumkan pada Lampiran 8. Konsumsi PK secara langsung dipengaruhi oleh konsumsi BK, tidak adanya pengaruh yang nyata pada konsumsi BK mengakibatkan PK yang masuk tidak berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa konsumsi BK (Lampiran 3) secara langsung akan mempengaruhi jumlah nutrisi pakan yang masuk. Tidak adanya perbedaan dalam mengkonsumsi PK karena T0, T1 dan T2 mendapat perlakuan yang sama yaitu, pakan yang diberikan sama dengan tingkat konsumsi protein pakan yang sama. Hal ini dapat dilihat pada konsumsi PK rumput Gajah ( Lampiran 6) dan konsumsi PK konsentrat (Lampiran 7) yang telah diuji statistik menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05). Tidak adanya perbedaan tersebut selain disebabkan faktor pakan berupa kandungan nutrisi pakan yang sama, diduga karena kapasitas saluran penceranan sapi-sapi perlakuan relatif sama, karena bobot badan sapi tersebut sama. Bobot badan ternak berpengaruh terhadap kapasitas saluran pencernaan sehingga berpengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi. Sapi dengan bobot badan yang hampir sama memiliki kebutuhan hidup pokok, produksi dan reproduksi yang hampir sama sehingga pakan yang dikonsumsi juga hampir sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1999) yang menyatakan konsumsi pakan dipengaruhi oleh bobot badan, permintaan fisiologis ternak untuk hidup pokok dan produksi.
Kecernaan PK pada sapi T0 adalah 70,47%, pada sapi T1=70,37% dan sapi T2=69,86%. Hasil uji statistik konsumsi protein tercerna (Lampiran 9) dan kecernaan (Lampiran 10) antar perlakuan menunjukkan hasil tidak berbeda (P>0,05). Hal ini didukung dengan pengeluaran BK feses (Tabel 3) dan PK feses (Tabel 4) juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda (P>0,05). Perhitungan statistik BK feses dan PK feses selengkapnya dicantumkan pada Lampiran 11 dan Lampiran 12. Hasil yang tidak berbeda tersebut menunjukkan bahwa sapi-sapi perlakuan memiliki kemampuan mencerna PK dan laju kecernaan PK yang hampir sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Lubis (1992) dan Soeparno (1992) yang menyatakan bahwa kecernaan pakan dipengaruhi oleh anatomi saluran pencernaan.
Total pengeluaran protein menunjukkan bahwa rata-rata ekskresi urin sapi T0 (293,35 g/ekor/hari) lebih sedikit dari T1 (323,78 g/ekor/hari) dan T2 (356,65 g/ekor/hari), tetapi secara statistik (Lampiran 13) tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05). Tabel 4 dapat dilihat bahwa ekskresi protein feses pada T0 (342,44 g/ekor/hari) lebih tinggi dari T1 (334,48 g/ekor/hari) dan T2 (310,44 g/ekor/hari) namun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan (Lampiran 12). Total pengeluaran protein dari penjumlahan protein feses dan protein urin tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,005). Menurut Parakkasi (1999) meningkatnya ekskresi urin dapat menurunkan retensi protein. Dijelaskan lebih lanjut oleh Frish dan Vercoe yang disitasi oleh Parakkasi (1999) bahwa ekskresi urin akan menyebabkan keluarnya protein tubuh yaitu dalam bentuk urea dan creatinin. Hungate (1966) menambahkan bahwa ekskresi nitrogen melalui feses berkorelasi positif dengan konsumsi nitrogen yaitu semakin tinggi konsumsi nitrogen semakin tinggi pula nitrogen yang diekskresikan melalui feses, sedangkan Piliang dan Djojosoebagio (1991) berpendapat bahwa rata-rata jumlah nitrogen yang diekskresikan tergantung pada efisiensi pencernaan pakannya.
Retensi protein dari ketiga perlakuan masing-masing sebesar T0= 520,66 g/ekor/hari, T1= 499,29 g/ekor/hari dan T2= 380,19 g/ekor/hari. Berdasarkan uji statistik (Lampiran 16) retensi protein tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sapi-sapi perlakuan memiliki kemampuan yang sama dalam meretensi protein pakan. Retensi protein dipengaruhi oleh hormon tiroksin. Hormon ini dipengaruhi oleh genetik dan suhu lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi protein atau neraca nitrogen adalah konsumsi protein, kualitas protein, suplai energi, pakan, jenis kelamin, genetik dan kondisi fisiologis ternak. Menurut Piliang dan Djojosoebagio (1991) neraca nitrogen juga dipengaruhi oleh hilangnya komponen nitrogen dalam tubuh yaitu melalui urin dan feses, sedangkan menurut Tamminga (1992) hilangnya nitrogen dalam tubuh sapi perah melalui bakteri rumen, urin dan feses.
Hasil penelitian menunjukkan nilai positif karena terdapat penambahan bobot badan harian (PBBH). Pemberian pakan hijauan dengan usuran pemotongan sampai 5 cm tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05) terhadap PBBH (perhitungan statistik selengkapnya dicantumkan pada Lampiran 20). Hasil ini sesuai dengan pendapat Maynard et al. (1979) serta Crampton dan Harris (1969) yang menyatakan bahwa retensi protein yang bernilai positif akan menyebabkan terjadinya kenaikan bobot badan. Protein yang terretensi sebagian digunakan untuk mempertahankan kemampuan produksi susu (Lampiran 14) dan kandungan protein susu (Lampiran 19). Menurut Macrae dan Reeds (1980) sapi yang sedang laktasi akan selalu mensekresikan protein susu sehingga sekresi ini akan mempengaruhi atau membatasi akresi jaringan tubuh sebagai retensi protein neto, sedangkan menurut Boorman (1980) protein yang teretensi di dalam tubuh sapi perah akan digunakan untuk produksi (susu) dan pertumbuhan jaringan tubuh, sehingga besarnya retensi protein juga dipengaruhi oleh sintesis susu (Oldham, 1994).

4.3. Kadar Urea Darah


Kadar urea darah secara statistik (Lampiran 18) tidak berbeda (P>0,05) antar perlakuan yaitu 23,67 mg/dl pada sapi yang mendapat perlakuan T0; 22,66 mg/dl pada sapi yang mendapat perlakuan T1 dan sapi dengan perlakuan T3 memiliki kadar urea darah sebesar 21,37 mg/dl (Tabel 5). Tidak adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan menunjukkan bahwa protein pakan yang masuk tidak mempengaruhi kadar urea dalam darah. Sumber urea darah antara lain berasal dari amonia rumen sebagai hasil aktivitas mikroba dan urea yang berasal dari ginjal sebagai hasil perombakan amonia oleh hati. Urea yang terbentuk merupakan hasil deaminasi protein maupun nitrogen bukan protein (NBP) yang berasal dari pakan melalui aktivitas mikroorganisme rumen dalam bentuk amonia rumen yang masuk ke dalam sirkulasi darah.
Tabel 5. Rata-rata Kadar Urea Darah

Parameter Perlakuan
T0 T1 T2
------------------------- mg/ dl --------------------
Kadar Urea Darah 23,67 22,66 21,37

Faktor yang menyebabkan kadar urea darah rendah adalah kandungan air dalam plasma tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Schalm (1965) bahwa rendahnya kandungan air dalam plasma akibat dari dehidrasi yang menyebabkan kadar unsur urea yang terlarut di dalam plasma menjadi tinggi dan begitu pula jika kandungan air dalam plasma tinggi.
Kadar urea darah yang ditunjukkan dari ketiga perlakuan masih dalam kisaran normal. Menurut Hungate (1966) konsentrasi urea darah dalam keadaan normal berkisar antara 1,6 – 3,4 mmol/ l atau setara dengan 26,6 – 56,6 mg/ 100 ml, sedangkan menurut Bondi (1987) batasan maksimal kadar urea darah adalah 80 mg/ dl. Batasan ini mengindikasikan bahwa ternak berada dalam kondisi keracunan apabila kadar urea darah diatas 80 mg/ dl dan ternak dalam kondisi normal apabila kadar urea darah berada pada kisaran dibawah 80 mg/ dl.


BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan hijauan dengan ukuran pemotongan yang berbeda tidak mempengaruhi konsumsi pakan, kecernaan bahan kering, kecernaan protein kasar, retensi protein maupun kadar urea darah.

5.2. Saran

Penelitian lebih lanjut mengenai pemotongan hijauan dengan ukuran yang berbeda perlu dilakukan untuk mengetahui ukuran pemotongan yang tepat guna meningkatkan retensi protein khususnya dan produktivitas sapi perah pada umumnya.

















DAFTAR PUSTAKA

Adiati, U. 1995. Manfaat urea dalam produksi mikroba rumen ternak ruminansia. Majalah Pengembangan Ilmu-ilmu Peternakan dan Perikanan, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Edisi Khusus. 50-57.

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT. Gramedia, Jakarta.

Aniyah, U. 2005. Retensi Energi pada Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) Laktasi yang Diberi Rumput Gajah Dengan Berbagai Ukuran. Fakultas Peternakan Unuversitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan)

Arianto, H.M. dan B. Sarwono. 2003. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat Cetakan ke-3. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Arora, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh R. Murwani).

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).

Bondi, A.A. 1987. Animal Nutrition. John Wiley & Sons, Chichester

Boorman, K.N. 1980. Dietary Contraints on Nitrogen Retention Dalam : P.J. Buttery dan D.B. Lindsay (Editor). Protein Deposition in Animals. 1st Ed. Butterworths, London.

Campbell, J.R. dan J.F. Lasley. 1985. The Science of Animal that Serve Mankind. Edisi ke-2. Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi.

Chamberlain. A. 1993. Milk Production in the Tropics. 2nd Ed. Longman Scientific and Technical, England.

Collier, R.J. 1985. Nutritional, Metabolic and Enviromental Aspects of Lactation in; B.L. Larson : Lactation. Iowa State University Press. Amess. pp : 80-128

Crampton, C.W. dan L. Harris. 1969. Applied Animal Nutrition. Edisi ke-2. W. H. Freeman and Company, San Francisco.

Church, D.C. 1993. The Ruminant Animal Digestive Physiology and Nutrition. Waveland Press Inc., New Jersey.

Darmono. 1992. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Ensminger, M.E. 1969. Dairy Cattle Science. 3rd Ed. Interstate Published Inc. Angelwood Cliffs, New Jersey

Frandson, R.D. 1994. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono dan K. Praseno).

Gaspersz, V. 1991. Teknik Analisis Dalam Penelitian Percobaan. Tarsito, Bandung.

Haryoko, I., M. Batta dan N. Hidayat. 2001. Evaluasi berbagai sumber protein dalam urea-molases secara in-vitro sebagai alternative konsentrat sapi potong. Buletin Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 25(1) 26-31.

Hungate, R.E. 1996. The Rumen and Its Mikrobes. Academic Press, New York.

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminan. Cetakan ke-1. Kanisius, Yogyakarta.

Kearl, L.C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. International Feedstuffs Institute, Utah Agricultural Experiment Station University, Logan.

Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-3. PT. Pembangunan, Jakarta.

Macrae, J.C. dan P.J. Reeds. 1980. Prediction of protein deposition in ruminant. Dalam : P.J. Buttery dan D.B. Lindsay (Ed.). Protein Deposition in Animals. Butterworths, London.

Maynard , L.A. dan J.K. Loosli. 1969. Animal Nutrition. Edisi ke-6. McGraw Hill Book Company, New Delhi.
Maynard, L.A., J.K. Loosli, H.F. Hintz, R.G. Warner. 1979. Animal Nutrition. 7th Ed., Tata Mc Graw Hill Publishing Company Limited, New Delhi.
Murray, R.K., D.K. Graner, P.A. Mayes dan V.W. Rodwell. 1999. Biokimia Harper. Edisi Ke-24. Buku Kedokteran EGC, Jakarta (Diterjemahkan oleh A. Hartono).
Muljana, W. 1985. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Sapi Perah. Aneka Ilmu, Semarang.

Montgomery, R., R.L. Dryer, T.W. Conway, dan A.A. Spector. 1993. Biokimia Jilid 2. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh Ismadi)
National Research Council (NRC). 1978. Nutrient Requirements of Dairy Cattle. 6th Ed., National Academy Press, Washington D.C.

Orskov, E.R. 1992. Protein Nutrition in Ruminants. 2nd. Harcount Brace Jovanovich, Publishers, London.

Oldham, J.D. 1994. Amino acid nutrition of the dairy cow. Dalam : J.P.F. D’Mello (Ed.) Amino Acid in Farm Nutrition. CAB International, UK.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Edisi ke-2. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Piliang, W.G. dan Djojosoebagio. 1991. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. Edisi I. BPFE, Yogyakarta.

Ranjhan, S.K. 1977. Animal Nutrition. 3rd Ed. Vikas Publishing House, New Delhi.

Reksohadiprodjo, S. 1994. Produksi Hijauan Makanan Ternak Tropika. BPFE Gajahmada, Yogyakarta.

Riyanthi. 2005. Aktivitas Makan dan Ruminansi Sapi Peranakan Friestian Holstein (PFH) Laktasi Yang Diberi Pakan Rumput Gajah Dengan Ukuran Pemotongan Yang Berbeda. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang. (Makalah Seminar).

Sannes, R.A., M.A. Messman dan D.B. Vagnon. 2002. Form of rumen degradable carbohydrate and nitrogen on microbial protein synthesis and protein efficiency of dairy cows. J. Dairy Sci. 85 : 900-908.

Schalm, C.W.N., C. Jain dan E.J. Carrol. 1965. Veterinary Hematologi. 2nd Ed., Lea and Febiger, Philadelphia.

Siregar, S. B. 1990. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Srigandono, B. 1987. Rancangan Percobaan. Universitas Diponegoro, Semarang.

Soebarinoto, S. Chuzaemi. dan Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Universitas Brawijaya, Malang.

Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke-2. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sosroamidjojo, M.S. 1984. Ternak Potong dan Kerja. Yasaguna, Jakarta.

Sugeng, Y.B. 1996. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutardi, T. 1981. Sapi Perah dan Pemberian Makanannya. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. (Tidak Diterbitkan).

Syarief, M.Z. dan R.M. Sumoprastowo. 1990. Ternak Perah. CV. Yasaguna, Jakarta.

Tamminga. 1992 Nutrition management of dairy cow as a contribution to pollution control. J. Dairy Sci. 75 : 345-357.

Tillman.A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Williamson, G. dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh S. G. N. D. Darmadja).


Lampiran 1. Uji Statistik Konsumsi Bahan Kering Hijauan.

Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 5412 4696 4096 2896 5662 3852 26.614
II 5328 4120 4630 3856 3518 4250 25.702
III 4170 4446 3450 2610 3842 3452 21.970
Total Kolom 14.910 13.262 12.176 9.362 13.022 11.554
Total Baris 74.286

Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 25476,00 4246,00
T1 26444,00 4407,33
T2 22366,00 3727,67


FK = = 306578322,00
JK Total = (( 5412)2 + (4696)2 + …+ (3452)2 ) - 306578322,00
= 318056468,00 - 306578322,00
= 11478146,00
JK RBL =
= 308860994,22 - 306578322,00
= 2282672,22
JK Baris =
= 308596450,00 - 306578322,00
= 2018128,00
Lampiran 1. Lanjutan.
JK Kolom =
= 312386054,67 – 308860994,22
= 3525060,44
JK Perlakuan =
= 308482030 - 306578322
= 1903708,00
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 11478146 – 2282672,22 – 2018128 – 3525060,44 – 1903708
= 1748577,33
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBSL 1 2282672,22 2282672,22
Baris 2 2018128,00 1009064,00
Kolom 4 3525060,44 881265,11
Perlakuan 2 1903708,00 951854,00 4,35ns 4,46
Galat 8 1748577,33 218572,17
Total 17 11478146

CV = 11,30%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.
Lampiran 2. Uji Statistik Konsumsi Bahan Kering Konsentrat.

Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 7344 5862 5640 4802 6582 5692 35.922
II 7126 5968 6056 4900 6358 5664 36.072
III 6938 7290 5870 4678 6394 5704 36.874
Total Kolom 21.408 19.120 17.566 14.380 19.334 17.060
Total Baris 108.868


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 37614 6269
T1 35844 5974
T2 35410 5901

FK = = 658457856,89
JK Total = (( 7344)2 + (5862)2 + …+ (5704)2 ) - 658457856,89
= 669514248,00 – 658457856,89
= 11056391,11
JK RBL =
= 661434656,89 - 658457856,89
= 2976800,00
JK Baris =
= 658545190,67 – 658457856,89
= 87333,78

Lampiran 2. Lanjutan.
JK Kolom =
= 668024258,7 - 661434656,89
= 6589601,78
JK Perlakuan =
= 658912238,7 – 658457856,89
= 454381,78
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 11056391,11– 2976800 – 87333,78 – 6589601,78 – 454381,78
= 948273,78
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 2976800,00 2976800,00
Baris 2 87333,78 43666,89
Kolom 4 6589602,00 1647400,00
Perlakuan 2 454381,80 227190,90 1,92ns 4,46
Galat 8 948273,80 118534,20
Total 17 11056391

CV = 5,70%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.






Lampiran 3. Uji Statistik Konsumsi Bahan Kering Ransum.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 12.756 10.558 9.736 7.412 10.424 9.144 60030
II 12.454 10.088 10.686 8.756 9.876 9.914 61774
III 11.108 11.736 9.320 7.574 12.056 9.556 61350
Total Kolom 36.318 32.382 29.742 23.742 32.356 28.614
Total Baris 183.154


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 63090,00 10515,00
T1 62288,00 10381,33
T2 57776,00 9629,33

FK = = 1863632650,89
JK Total = (( 12.756)2 + (10.558)2 + …+ (9.144)2 ) - 1863632650,89
= 1901751124 - 1863632650,89
= 38118473,11
JK RBL =
= 1874105589,78 – 1863632650,89
= 10472938,89
JK Baris =
= 1863908412,67 - 1863632650,89
= 275761,78
Lampiran 3. Lanjutan.
JK Kolom =
= 1893843969 - 1874105589,78
= 19738379,56
JK Perlakuan =
= 1866368203,33 - 1863632650,89
= 2735552,44
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 38118473,11–10472938,89–927267,1–30211318,44–2735552,44
= 4895840,44
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 10472938,89 10472938,89
Baris 2 275761,78 137880,89
Kolom 4 19738379,56 4934594,89
Perlakuan 2 2735552,44 1367776,22 2,24ns 4,46
Galat 8 4895840,44 611980,06
Total 17 38118473,11

CV = 7,70%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.






Lampiran 4. Uji Statistik Kecernakan Bahan Kering Ransum.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……%………………...……..………
I 55,67 51.21 54,31 45,48 52,49 43,95 303,11
II 68,65 52,94 62,55 54,20 65,07 63,60 367,01
III 58,22 50,74 43,14 55,85 67,29 56,43 331,67
Total Kolom 182,54 154,88 160,01 155,53 184,85 163,98
Total Baris 1001,79


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..%………..…….………….
T0 340,90 56,82
T1 328,44 54,74
T2 332,45 55,41

FK = = 55754,81
JK Total = (( 55,67)2 + (51,21)2 + …+ (56,43)2 ) – 55754,81
= 56727,97 - 55754,81
= 973,16
JK RBL =
= 55757,46 – 55754,81
= 2,66
JK Baris =
= 56096,32 - 55754,81
= 341,51
Lampiran 4. Lanjutan.
JK Kolom =
= 56053,65 - 55757,46
= 296,19
JK Perlakuan =
= 55768,2992 – 55757,46
= 13,46
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 973,16 – 2,66 – 341,51 – 296,19 – 13,46
= 319,31
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 2,66 2,66
Baris 2 341,51 170,76
Kolom 4 296,19 74,05
Perlakuan 2 13,49 6,75 0,17ns 4,46
Galat 8 319,31 39,91
Total 17 973,16

CV = 11,4%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 5. Uji Statistik Bahan Kering Ransum Tercerna


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 7101,51 5406,30 5288,06 3532,28 7103,09 4430,50 32861,74
II 8549,93 5340,53 6684,57 4745,50 6426,30 6304,94 38051,77
III 6466,81 5954,75 4020,97 4068,29 6480,75 4980,81 31972,38
Total Kolom 22118,25 16701,58 15993,60 12346,07 20010,14 15716,25
Total Baris 102885,89


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 37217,15 6202,86
T1 33633,95 5605,66
T2 32034,79 5339,13

FK = = 588083686,73
JK Total = (( 7101,51)2 + (5406,30)2 + …+ (4980,81)2 ) - 588083686,73
= 616865183,67 - 588083686,73
= 28781496,94
JKRBL =
= 590608168,76 – 588083686,73
= 2524482,03
JK Baris =
= 591677373,14 - 588083686,73
= 3593686,41
Lampiran 5. Lanjutan.
JK Kolom =
= 607928886,60 - 590608168,76
= 17320717,86
JK Perlakuan =
= 590431102,80- 588083686,73
= 2347416,12
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
=28781496,94 – 2524482,03 – 3593686,41 – 17320717,86 – 2347416,12
= 2995194,52
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 2524482,03 2524482,03
Baris 2 3593686,41 1796843,21
Kolom 4 17320717,86 4330179,46
Perlakuan 2 2347416,12 1173708,06 3.13ns 4,46
Galat 8 2995194,52 374399,32
Total 17 28781496,94

CV = 10,7%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 6. Uji Statistik Konsumsi PK Hijauan.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 831,54 721,53 629,34 401,02 590,32 530,39 3704,14
II 818,64 633,03 711,39 592,47 540,53 653,00 3949,06
III 640,71 683,12 530,09 444,96 869,95 591,85 3760,68
Total Kolom 2290,89 2037,68 1870,82 1438,45 2000,80 1775,24
Total Baris 11413,88


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 3914,33 652,39
T1 4063,70 677,18
T2 3436,48 572,75

FK = = 7237592,04
JK Total = (( 831,54)2 + (721,53)2 + …+ (591,85)2 ) - 7237592,04
= 7508564,46 - 7237592,04
= 270972,42
JK RBL =
= 7291482,48 – 7237592,04
= 53890,45
JK Baris =
= 7243073,68 - 7237592,04
= 5481,64
Lampiran 6. Lanjutan.
JKKolom =
= 7374700,12 - 7291482,48
= 19738379,56
JK Perlakuan =
= 7273318,661 - 7237592,04
= 35726,62
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 270972,42 – 53890,45 – 5481,64 – 19738379,5 - 35726,62
= 92656,08
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 53890,45 10472938,89
Baris 2 5481,64 137880,89
Kolom 4 19738379,56 4934594,89
Perlakuan 2 35726,62 1367776,22 2,24ns 4,46
Galat 8 4895840,44 611980,06
Total 17 92656,08

CV = 17,0%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 7. Uji Statistik Konsumsi PK Konentrat


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 590,50 471,34 453,49 386,11 529,23 457,67 2888,34
II 572,97 479,86 486,94 393,99 511,22 455,42 2900,40
III 557,86 586,16 471,98 376,14 514,21 458,64 2964,99
Total Kolom 1721,33 1537,36 1412,41 1156,24 1554,66 1371,73
Total Baris 8753,73


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 3024,39 504,07
T1 2882,16 480,36
T2 2847,18 474,53

FK = = 4257099,38
JK Total = (( 590,50)2 + (471,34)2 + …+ (458,64)2 ) - 4257099,38
= 4328584,49 - 4257099,38
= 71485,10
JK RBL =
= 4276338,10 – 4257099,38
= 19238,72
JK Baris =
= 4257665,64 - 4257099,38
= 566,25
Lampiran 7. Lanjutan.
JK Kolom =
= 4318952,198 - 4276338,10
= 42614,09
JK Perlakuan =
= 4260035,848 - 4257099,38
= 2936,46
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 71485,10 –19238,72–566,25 –42614,09–2936,46
= 6129,57
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 19238,72 19238,72
Baris 2 566,25 283,13
Kolom 4 42614,09 10653,52
Perlakuan 2 2936,46 1468,23 1,92ns 4,46
Galat 8 6129,57 766,20
Total 17 71485,10

CV = 5,70%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.













Lampiran 8. Uji Statistik Konsumsi PK Total.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 1422,04 1192,87 1082,83 787,13 1119,55 988,06 6592,48
II 1391,61 1112,89 1198,33 986,46 1051,75 1108,42 6849,46
III 1198,57 1269,28 1002,07 821,10 1384,16 1050,49 6725,67
Total Kolom 4012,22 3575,04 3283,23 2594,69 3555,46 3146,97
Total Baris 20167,61


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 6938,72 1156,45
T1 6945,23 1157,54
T2 6283,66 1047,28

FK = = 22596249,62
JK Total = (( 1422,04)2 + (1192,87)2 + …+ (1050,49)2 ) - 22596249,62
= 23131278,84 - 22596249,62
= 535029,22
JK RBL =
= 22733777,01 – 22596249,62
= 137527,40
JK Baris =
= 22601755,30 - 22596249,62
= 5505,68
Lampiran 8. Lanjutan.
JK Kolom =
= 22978517,25 - 22733777,01
= 244740,24
JK Perlakuan =
= 22644406,33 - 22596249,62
= 48156,71
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 535029,22 – 137527,40 – 5505,68 – 244740,24 – 48156,71
= 99099,19
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 137527,40 137527,40
Baris 2 5505,68 2752,84
Kolom 4 244740,24 6118506
Perlakuan 2 48156,71 24078,36 1,94ns 4,46
Galat 8 99099,19 12387,40
Total 17 535029,22

CV = 9,90%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 9. Uji Statistik Kecernakan PK Total.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……%………………...……..………
I 68,29 70,88 69,88 60,22 67,78 67,05 404,10
II 75,62 72,05 71,77 65,25 71,75 80,27 436,70
III 72,86 66,58 65,66 68,11 77,76 72,41 423,39
Total Kolom 216,77 209,51 207,31 193,58 217,29 219,73
Total Baris 1264,20


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..%………..…….………….
T0 422,80 70,47
T1 422,23 70,37
T2 419,17 69,86

FK = = 88788,64
JK Total = ((68,29)2 + (70,88)2 + …+ (72,41)2 ) - 88788,64
= 89178,89 - 88788,64
= 390,25
JK RBL =
= 88789,14 – 88788,64
= 0,50
JK Baris =
= 88878,24 - 88788,64
= 89,59
Lampiran 9. Lanjutan.
JK Kolom =
= 88944,54 - 88789,14
= 155,40
JK Perlakuan =
= 88789,92 - 88788,64
= 1,27
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 390,25 –0,50 – 89,59 – 155,40 –1,27
= 143,48
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 0,50 0,50
Baris 2 89,59 44,80
Kolom 4 155,40 38,85
Perlakuan 2 1,27 0,64 0,04ns 4,46
Galat 8 143,48 17,94
Total 17 390,25

CV = 6,0%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.











Lampiran 10. Uji Statistik Konsumsi PK Tercerna.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 971,07 845,49 756,64 474,04 758,83 662,52 4468,59
II 1052,36 801,81 860,04 643,65 754,61 889,72 5002,19
III 873,32 845,15 657,99 559,27 1076,37 760,63 4772,73
Total Kolom 2896,75 2492,45 2274,67 1676,96 2589,81 2312,87
Total Baris 14243,51


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 4884,08 814,01
T1 4938,38 823,06
T2 4421,05 736,84

FK = = 11270976,51
JK Total = ((971,07)2 + (845,49)2 + …+ (760,63)2 ) - 11270976,51
= 11694987,41 - 11270976,51
= 424010,90
JK RBL =
= 11336285,10 – 11270976,51
= 65308,59
JK Baris =
= 11294858,84 - 11270976,51
= 23882,33
Lampiran 10. Lanjutan.
JK Kolom =
= 11548756,50 - 11336285,10
= 212471,40
JK Perlakuan =
= 11297919,60 - 11270976,51
= 26943,09
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 424010,90 –65308,59–23882,33–212471,40–26943,09
= 95405,49
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 65308,59 65308,59
Baris 2 23882,33 11941,17
Kolom 4 212471,40 53117,85
Perlakuan 2 26943,09 13471,54 1,13ns 4,46
Galat 8 95405,49 11925,69
Total 17 424010,90

CV = 13,8%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 11. Uji Statistik Bahan Kering Feses.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 5654,49 5151,70 4447,94 4041,22 4952,91 5125,50 29373,76
II 3904,07 4747,47 4001,43 4010,50 3449,70 3609,06 23722,23
III 4641,19 5781,25 5299,03 3343,71 3943,25 4163,19 27171,62
Total Kolom
Total Baris 80267,61


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 27342,85 4557,14
T1 27434,05 4572,34
T2 25490,71 4248,45

FK = = 357938289,73
JK Total = ((5654,49)2 + (5151,70)2 + …+ (4163,19)2 ) - 357938289,73
= 367337480,76 - 357938289,73
= 9399191,03
JK RBL =
= 360652374,71 – 357938289,73
= 2714084,98
JK Baris =
= 360643151,02 - 357938289,73
= 2704861,29

Lampiran 11. Lanjutan.
JK Kolom =
= 361718337,70 - 360652374,71
= 1065962,99
JK Perlakuan =
= 358339140,30 - 357938289,73
= 400850,58
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 9399191,03–2714084,98–2704861,29–1065962,99–400850,58
= 2513431,19
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 2714084,98 2714084,98
Baris 2 2704861,29 1352430,65
Kolom 4 1065962,99 266490,75
Perlakuan 2 400850,58 200425,29 0,64ns 4,46
Galat 8 2513431,19 314178,90
Total 17 9399191,03

CV = 12,6%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.











Lampiran 12. Uji Statistik Bahan Kering Urin.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 0,25 0,23 0,21 0,22 0,23 0,23 1,36
II 0,24 0,23 0,23 0,24 0,23 0,24 1,40
III 0,24 0,23 0,23 0,24 0,23 0,23 1,40
Total Kolom 0,72 0,68 0,68 0,70 0,69 0,70
Total Baris 4,16


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 1,41 0,24
T1 1,40 0,24
T2 1,35 0,23

FK = = 0,99
JK Total = ((0,25)2 + (0,23)2 + …+ (0,23)2 ) - 0,99
= 0,99- 0,99
= 0,00
JK RBL =
= 0,99 – 0,99
= 0,00
JK Baris =
= 0,99- 0,99
= 0,00

Lampiran 11. Lanjutan.
JK Kolom =
= 0,99 – 0,99
= 0,00
JK Perlakuan =
= 0,99- 0,99
= 0,00
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 0,00 – 0,00 – 0,00 – 0,00 – 0,00
= 0,00
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 0,00 0,00
Baris 2 0,00 0,00
Kolom 4 0,00 0,00
Perlakuan 2 0,00 0,00 0,03ns 4,46
Galat 8 0,00 0,00
Total 17 0,00 0,00

CV = 4,6%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata









Lampiran 13. Uji Statistik PK Feses.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 450,97 347,38 326,19 313,09 360,70 325,54 2123,89
II 339,25 311,08 338,29 342,81 297,14 218,70 1847,27
III 325,25 424,13 344,08 261,83 307,79 289,86 1952,94
Total Kolom 1115,47 1082,59 1008,56 917,73 965,65 834,10
Total Baris 5924,10


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 2054,64 342,44
T1 2006,85 334,48
T2 1862,61 310,44

FK = = 1949720,05
JK Total = ((450,97)2 + (347,38)2 + …+ (289,86)2 ) - 1949720,05
= 1995882,62 - 1949720,05
= 46162,57
JK RBL =
= 1963012,15 – 1949720,05
= 13292,11
JK Baris =
= 1956214,97 - 1949720,05
= 6494,93
Lampiran 12. Lanjutan.
JK Kolom =
= 1967966,00 - 13292,11
= 4954,11
JK Perlakuan =
= 1953051,411 - 1949720,05
= 3331,37
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 46162,57 – 13292,11 – 6494,93 – 4954,11 – 3331,37
= 18090,06
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 13292,11 13292,11
Baris 2 6494,93 3247,46
Kolom 4 4954,11 1238,53
Perlakuan 2 3331,37 1665,68 0,74ns 4,46
Galat 8 18090,06 2261,26
Total 17 46162,57

CV = 14,4%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 14. Uji Statistik PK Urin.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 155,04 457,18 434,86 179,94 154,50 184,98 1566,50
II 456,17 269,87 588,49 284,77 596,95 299,14 2495,39
III 220,23 335,05 218,09 227,90 341,46 438,06 1780,79
Total Kolom 831,44 1062,10 1241,44 692,61 1092,91 922,18
Total Baris 5842,68


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 1760,12 293,35
T1 1942,65 323,78
T2 2139,91 356,65

FK = = 1896494,98
JK Total = (( 155,04)2 + (457,18)2 + …+ (438,06)2 ) - 1896494,98
= 2235542,70 - 1896494,98
= 339047,72
JK RBL =
= 1906637,65 – 1896494,98
= 10142,68
JK Baris =
= 1975351,09 - 1896494,98
= 78856,11
Lampiran 13. Lanjutan.
JK Kolom =
= 1961700,00 - 1906637,65
= 55062,01
JK Perlakuan =
= 1908521,04 - 1896494,98
= 12026,06
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 339047,72 – 10142,68 – 78856,11 – 55062,01 – 12026,06
= 182960,86
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 10142,68 10142,68
Baris 2 78856,11 39428,06
Kolom 4 55062,01 13765,50
Perlakuan 2 12026,06 6013,03 0,26ns 4,46
Galat 8 182960,86 22870,11
Total 17 339047,72

CV = 46,6%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 15. Uji Statistik Total Ekskresi Protein.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 606,01 804,56 761,05 493,03 515,22 510,52 3690,39
II 795,42 580,95 926,78 627,58 894,09 517,84 4342,66
III 545,48 759,18 562,17 489,73 649,25 727,92 3733,73
Total Kolom 1946,91 2144,69 2250,00 1610,34 2058,56 1756,28
Total Baris 11766,78


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 3814,76 635,79
T1 3949,50 658,25
T2 4002,52 667,09

FK = = 7692061,75
JK Total = ((606,01)2 + (804,56)2 + …+ (727,92)2 ) - 7692061,75
= 8034618,19 - 7692061,75
= 342556,43
JK RBL =
= 7738718,73 – 7692061,75
= 46656,98
JK Baris =
= 7736402,32 - 7692061,75
= 44340,57
Lampiran 14. Lanjutan.
JK Kolom =
= 7789345,79 - 7738718,73
= 50627,06
JK Perlakuan =
= 7695185,08 - 7692061,75
= 3123,32
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 342556,43 – 46656,98 – 44340,57 – 50627,06 – 3123,32
= 197808,50
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 46656,98 46656,98
Baris 2 44340,57 22170,28
Kolom 4 50627,06 12656,76
Perlakuan 2 3123,32 1561,66 0,06ns 4,46
Galat 8 197808,50 24726,06
Total 17 342556,43

CV = 24,1%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 16. Uji Statistik Retensi Protein.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 816,03 388,31 321,78 294,10 604,33 477,54 2902,09
II 596,19 531,94 271,55 358,88 157,66 590,58 2506,80
III 653,09 510,10 439,90 331,37 734,91 322,57 2991,94
Total Kolom 2065,31 1430,35 1033,23 984,35 1496,90 1390,69
Total Baris 8400,83


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 3123,96 520,66
T1 2995,73 499,29
T2 2281,14 380,19

FK = = 3920774,70
JK Total = (( 816,03)2 + (388,31)2 + …+ (322,57)2 ) - 3920774,70
= 4448755,10 - 3920774,70
= 527980,40
JK RBL =
= 3944751,56 – 3920774,70
= 23976,85
JK Baris =
= 3942979,60 - 3920774,70
= 22204,89
Lampiran 15. Lanjutan.
JK Kolom =
= 4174214,65 - 3944751,56
= 229463,10
JK Perlakuan =
= 3989520,67 - 3920774,70
= 68745,96
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 527980,40 – 23976,85 – 22204,89 – 229463,10 – 68745,96
= 183589,59
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 23976,85 23976,85
Baris 2 22204,89 11102,45
Kolom 4 229463,10 57365,77
Perlakuan 2 68745,96 34372,98 1,50ns 4,46
Galat 8 183589,59 22948,70
Total 17 527980,40

CV = 32,5%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 17. Uji Statistik Deposisi Protein.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……%………………...……..………
I 57,38 32,55 29,72 40,38 53,09 30,71 243,81
II 42,84 47,80 22,66 36,38 14,99 53,28 217,95
III 54,49 40,19 43,90 37,36 53,98 48,33 278,25
Total Kolom 154,72 120,54 96,28 114,10 122,06 132,32
Total Baris 740,01


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..%………..…….………….
T0 263,97 44,00
T1 240,36 40,06
T2 235,68 39,28

FK = = 30423,43
JK Total = ((57,38)2 + (32,55)2 + …+ (48,33)2 ) - 30423,43

= 32804,05 - 30423,43
= 2380,61
JK RBL =
= 30423,95 – 30423,43
= 0,52
JK Baris =
= 30728,47 - 30423,43
= 305,03
Lampiran 16. Lanjutan.
JK Kolom =
= 31054,20 - 30423,95
= 630,25
JK Perlakuan =
= 30500,09 - 30423,43
= 76,65
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 2380,61 – 0,52– 305,03 – 630,25 – 76,65
= 1368,16
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 0,52 0,52
Baris 2 305,03 152,52
Kolom 4 630,25 157,56
Perlakuan 2 76,65 38,33 0,22ns 4,46
Galat 8 1368,16 171,02
Total 17 2380,61

CV = 31,8%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 18. Uji Statistik Kadar Urea Darah.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..…… mg/ dl ………………...……..………
I 18,00 19,29 13,27 24,88 28,32 21,01 124,79
II 23,16 21,01 25,74 24,02 24,88 30,91 149,74
III 26,60 25,74 23,16 13,27 25,31 17,57 131,67
Total Kolom 67,77 66,05 62,18 62,18 78,52 69,49
Total Baris 406,20


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..….. mg/ dl ………..…….………….
T0 141,99 23,67
T1 135,97 22,66
T2 128,23 21,37

FK = = 9166,70
JK Total = ((18,00)2 + (19,29)2 + …+ (17,57)2 ) - 9166,70
= 9561,04 - 9166,70
= 394,35
JK RBL =
= 9177,88 – 9166,70
= 11,19
JK Baris =
= 9222,01 - 9166,70
= 55,32
Lampiran 17. Lanjutan.
JK Kolom =
= 9228,03 - 9177,88
= 50,14
JK Perlakuan =
= 9182,56 - 9166,70
= 15,86
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 394,35 – 11,19 – 55,32 – 50,14 – 15,86
= 261,84
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 11,19 11,19
Baris 2 55,32 27,66
Kolom 4 50,14 12,54
Perlakuan 2 15,86 7,93 0,24ns 4,46
Galat 8 261,84 32,73
Total 17 394,35

CV = 25,4%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.











Lampiran 19. Uji Statistik Produksi Susu.

Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
………………………...……..……kg……...……..………………
I 6,25 6,56 5,54 3,52 4,58 2,41 28,86
II 6,28 5,84 5,62 4,15 4,76 4,53 31,18
III 5,23 5,08 5,14 3,84 5,02 4,41 28,71
Total Kolom 17,75 17,48 16,30 11,51 14,36 11,34
Total Baris 88,76


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..kg………..…….………….
T0 23,65 4,73
T1 29,56 4,93
T2 29,29 4,88

FK = = 437,64
JK Total = ((6,25)2 + (6,56)2 + …+ (4,41)2 ) – 437,64
= 456,43 – 437,64
= 18,79
JK RBL =
= 449,04 – 437,64
= 11,40
JK Baris =
= 438,28 – 437,64
= 0,64

Lampiran 18. Lanjutan.
JK Kolom =
= 451,36 - 449,04
= 2,32
JK Perlakuan =
= 437,67 – 437,64
= 0,03
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 18,79 – 11,40 – 0,64 – 2,32 – 0,03
= 4,41
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBSL 1 11,40 11,40
Baris 2 0,64 0,32
Kolom 4 2,32 0,58
Perlakuan 2 0,03 0,02 0,03ns 4,46
Galat 8 4,41 0,55
Total 17 18,79

CV = 15,10%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 20. Uji Statistik PK Susu.


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I 7,11 6,03 6,32 8,47 7,95 6,57 42,45
II 10,23 8,74 8,67 8,04 11,42 9,64 56,74
III 7,67 7,18 8,85 5,96 6,15 6,77 42,31
Total Kolom 25,01 21,95 23,57 22,47 25,52 22,98
Total Baris 141,50


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 46,51 7,75
T1 45,60 7,60
T2 49,39 8,23

FK = = 1112,35
JK Total = ((7,11)2 + (6,03)2 + …+ (6,77)2 ) - 1112,35
= 1152,34 - 1112,35
= 39,99
JK RBL =
= 1112,36 – 1112,35
= 0,01
JK Baris =
= 1135,26 - 1112,35
= 22,91
Lampiran 19. Lanjutan.
JK Kolom =
= 1115,70 - 1112,36
= 3,34
JK Perlakuan =
= 1113,65 - 1112,35
= 1,30
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 39,99 – 0,01 – 22,91 – 3,34 – 1,30
= 12,42
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 0,01 0,01
Baris 2 22,91 11,46
Kolom 4 3,34 0,84
Perlakuan 2 1,30 0,65 0,42ns 4,46
Galat 8 12,42 1,55
Total 17 39,99

CV = 15,8%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.










Lampiran 21. Uji Statistik Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH).


Baris Kolom (Sapi) Total
(Periode) 1 2 3 4 5 6
…………………..……..……g/ekor/hari………………...……..………
I -0,13 0,13 0,38 0,29 0,50 0,27 1,44
II 0,23 -0,23 -0,21 0,07 -0,36 0,40 -0,10
III 0,35 -0,12 -0,24 -0,03 -0,08 0,21 0,09
Total Kolom 0,45 -0,22 -0,07 0,33 0,06 0,88
Total Baris 1,43


Perlakuan Total Perlakuan Rerata Perlakuan
…………..…………..…..g/ekor/hari………..…….………….
T0 0,41 0,07
T1 0,38 0,06
T2 0,64 0,11

FK = = 0,11
JK Total = ((-0,13)2 + (0,13)2 + …+ (-0,21)2 ) - 0,11
= 1,28 - 0,11
= 1,16
JK RBL =
= 0,18 – 0,11
= 0,07
JK Baris =
= 0,35 - 0,11
= 0,24
Lampiran 20. Lanjutan.
JK Kolom =
= 0,38 - 0,18
= 0,20
JK Perlakuan =
= 0,12 - 0,11
= 0,01
JK Galat = JK Total – JK RBL – JK Baris – JK Kolom – JK Perlakuan
= 1,16 – 0,07 – 0,24 – 0,20 – 0,01
= 0,65
ANOVA
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
RBL 1 0,07 0,07
Baris 2 0,24 0,12
Kolom 4 0,20 0,05
Perlakuan 2 0,01 0,00 0,04ns 4,46
Galat 8 0,65 0,08
Total 17 1,16

CV = 35,9%
Keterangan: ns = tidak berbeda nyata.








Penulis dilahirkan di Klaten 22 Juli 1983 putra ketiga dari pasangan Bapak Soemarno dan Ibu Hartini. Pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Umum Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam diselesaikan masing-masing di SD Negeri I Keputran tahun 1995, SLTP Negeri I Manisrenggo tahun 1998 dan SMU Negeri I Karangnongko, Klaten tahun 2001.
Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang tahun 2001. Penulis berhasil mempertahankan Laporan Praktek Kerja Lapangan dengan judul “Tatalaksana Perkandangan Di Peternakan Sapi Perah Dairy Cattle Pamoedji Farm Kecamatan Ngantang, Malang ,Jawa Timur.“ pada tanggal 27 Juli 2004.
Sampai saat ini penulis masih terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar